Tampilkan postingan dengan label work. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label work. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 10, 2014

Accommodating all Learning Styles; An Effort for a Better Learning Process

Poor Eddie. His mother had to take him home because his teachers felt desperate handling him in class. “He is annoying most of the time. It’s totally hard to adjust him. Besides, his brain is too slow to grasp the lessons”, his teacher complained. Since then, Eddie spent eighteen hours per day at his own small “laboratory” at home. He never considered his activities at his lab as “working” or “studying”. “I just play. It is a pleasure”, he said. The history notes that Eddie, or Thomas Alfa Edison as his full name, the person who had ever been dropped-out from the school and considered brainless by the teachers, in the following time became the most productive inventor with his 1300 inventions during his life, one of them was the lamp. He was only one of those whose learning styles were unmatched with the teachers’ teaching styles in most of conventional schools. Albert Einstein, considered as the most genius person in the world, was also dropped-out from his primary school due to his disobedient attitude and his slow ability in grasping the lessons.
We have known since a long time that many famous successful persons in the world were not successful at their schools. Many persons graduate from schools with worst grades or even “fail” to graduate due to their poor grades. However, those who “fail” actually have the same brain , the same potency, the same chance to succeed. We, as the perfect “primata”, have the perfect brain with the same parts of it that are functioned as the builder of our intelligence. Everybody is smart, with his own way. So, what makes them different?
Recently, we are “attacked” by the latest findings from the educational researchers that may change our point of view toward education. Some of them are: there are many (at least eight) kinds of intelligence in human’s brain , there are many (at least three) kinds of learning styles, and there are many (at least four) kinds of thinking (organizing information) types. No single way is better than others.
In fact, the most important but the most forgotten thing to consider by the educators is the varied learning styles the learners may possess. They can be visual learners (access visual image to remember), auditory learners (access the sounds and words to remember), or kinesthetic learners (access the movements and emotions to remember). Most of us are visual learners, and naturally become visual teachers. Consequently, the students whose learning styles are different from us will have more difficulties in grasping the lessons because they process “the world” through “different language” from us. That’s the root problem: the “traditional” schools or educational institutions seldom or never accommodate some students’ learning styles so they look unintelligent. Einstein and Edison were kinesthetic learners; they learnt most when they involved with the activity, actively with their physical contact. They couldn’t stand sitting nicely on the chairs, listening what the teacher’s say, and nodding their heads to show their understanding. They couldn’t stop annoying the teachers with the questions and ridiculous manners. However, they were considered foolish by their teachers and kicked out from their schools. Unfortunately, we sometimes forget that the ‘unmatched styles’ between ‘difficult learners’ and teachers’ way of teaching has been happening continuously nowadays. Handling many characters of students, I found that the students have varied ways of memorizing vocabulary or sentence patterns. Some are accustomed to close their eyes and say the words aloud over and over (so afterward I ask them to clearly pronounce the words in turns), some prefer looking at the whiteboard quietly and making a neat note in order to review the words (so I clearly note them the words, the way to pronounce and the meaning on the whiteboard), and the rest are easy to understand the words if I demonstrate them (using gestures or other movements ). I agree that ideally, education should accommodate all kinds of learning styles . This is an effort to have better learning processes.

Rabu, Juli 07, 2010

Jangan Cemen, Ah!



Jika kita amati sekeliling kita, ada hal yang lucu untuk dipikirkan. Tampaknya ada orang-orang yang tampak selalu punya banyak masalah, dan ada yang tampak selalu tidak punya masalah –happy go lucky dengan hidupnya yang sempurna. The question is: WAS IT REAL?

Benarkah kemalangan selalu menyerbu sebagian orang saja, dan yang lain senantiasa dihujani keberuntungan –persis kaya cerita Donal Bebek versus Si Untung?

Rhonda Byrne bilang: human attracts what they think of. Napoleon Hill terkenal dengan pernyataannya you are what you think you are. Inti dari semua nasihat pengembangan diri yang kita baca sejak SMP bisa jadi cuma 1: MIND REALLY MATTERS! Pikiranlah yang mengarahkan action kita, dan pada akhirnya menentukan akan menjadi apa kita.

Lantas pikiran macam apa yang kondusif untuk kita pelihara bagi kemaslahatan diri kita ini? Hill jelas mengatakannya: positive thinking, dan David Schwarts menyebutnya: big thinking. Whatever lah, yang jelas cara berpikir dengan higher perspective memang telah menjadi tuntutan –kecuali kita mau tergolong kedalam manusia-manusia penuh keluhan yang isi pembicaraannya tiap hari hanya hal-hal buruk, suram, bernada frustrasi dan menularkan mood jelek pada sekelilingnya [a.k.a Dementor].

Pada akhirnya kita lihat bahwa toh tiap orang punya masalah dalam hidupnya. Bukankah ini emang cara Tuhan mendidik kita si kaum pemalas ini untuk mau sedikit mikir? Yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang bukanlah hoki, namun cara mereka menyikapi masalah, kesulitan, or whatsoever yang merintangi langkah mereka.

Don’t get me wrong, Buddies. Akupun sering merasa berada di titik nadir, frustrasi dan merasa gloomy seolah dalam setahun kedepan hanya akan ada musim hujan tanpa matahari sama sekali. Terkadang omongan negatif orangpun bisa membuat ngedrop hingga malas berbuat apa-apa. Banyak hal internal yang juga bisa menjadi pemicu rasa tidak puas dan depresi pada diri sendiri. Kadang-kadang, merasa tidak produktif, tidak capable, tidak suka dengan apa yang harus dilakukan, merasa banyak yang tidak beres, tidak diperlakukan selayaknya oleh orang lain, merasa tidak diapresiasi, dengan sendirinya menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri yang bisa jadi efek bola salju yang terus menggelinding dan membesar –bila tidak buru-buru dinetralisir sebisanya.

Wokelah kalo begitu. Untuk mengecas energi kita yang kadang-kadang low, malah kritis dan mati suri, kita lihat saja bagaimana golongan pemenang menghadapi masalah. Mudah-mudahan cukup untuk membuat kita nggak cemen dengan masalah-masalah yang [pasti] akan selalu ada dalam hidup kita yang [nggak selalu] cihui ini.

RACUN 1: DIKRITIK. Ah, anggap aja KRITIK sebagai KRIPIK. Renyah, enak, mengandung karbohidrat yg baik buat masa pertumbuhan :D

• Albert Einstein, -yg disebut orang that damn brilliant human ever created- ternyata pernah dikatain: bolot, tidak suka bergaul, dan senantiasa hanyut dalam khayalan bodohnya.

• Guru Thomas Edison pernah mengatakan bahwa Thomas terlalu bodoh untuk belajar sesuatu. [Lo tau dia penemu atas seribu penemuan penting]

• Guru Beethoven mengomentari Beethoven: “What a hopeless composer!”. Yeah, setidaknya suami elo ga pernah bilang elo hopeless wife kan? Ihihihi..

• Charles Darwin dianggap oleh semua gurunya (termasuk bokapnya sendiri ) sebagai seorang budak biasa dan mempunyai tingkat kecerdasan dibawah normal.

• Walt Disney pernah di pecat oleh seorang redaktur surat kabar karena kekurangan ide.

• Marconi mengajukan anggaran dana sebesar US$ 30.000 untuk membuat sistem pengiriman pesan tanpa kabel, teman - temannya menyarankan: segeralah masuk ke rumah sakit jiwa
terdekat!!

• Ortunya Erico Caruso, seorang penyanyi opera terkenal pernah mengatakan bahwa dia sebenarnya ga mempunyai suara nyaring dan ga bisa bernyanyi.

• Pendiri Federal Express pernah di beritahu bahwa idenya tidak masuk akal; dan diberi nilai merah (tidak lulus) oleh profesor di universitasnya. Tiga puluh tahun kemudian, Federal Express menjadi sebuah perusahaan ekspedisi ekspres yang terbesar di dunia dengan 128.000 orang karyawan dan mempunyai modal lebih dari US$7 milyar. [moral lesson: dont always trust your professor :D]

• Semasa Sylvester Stallone menjalani ujian di Universitas Dexel, dia di beritahu bahwa peluang masa depannya hanyalah sebagai seorang tukang reparasi elevator. Dengan demikian ayahnya yang
sering memukul dan mengatakan bahwa dia adalah seorang anak yang tak bisa di harapkan. Bayangin kalo Sly percaya dan ngelamar jadi tukang reparasi elevator beneran, e do do eee..


RACUN 2: GAGAL. Ternyata orang-orang besar semuanya pernah gagal. We’re not the only one who fail. Masalahnya cuma 1: setelah gagal, SO WHAT?

• Sebagai seorang siswa, Aristotle Onassis merupakan si tolol nomor satu dan biang kerok, sehingga pernah di keluarkan dari beberapa sekolah. Akhirnya dia gagal dalam ujian dan tidak punya
ijazah walau diploma sekalipun. Onasiss getooo, lo tau dia kemudian jadi org paling tajir gilaaaaa

• Winston Churchill aja pernah ga naik kelas. Jadi kalo lo sekedar ga lulus test wawancara kerja, cukup bilang: “Setidaknya gw ga pernah tinggal kelas kaya Winston Churcil” :D

• Jangan anggap Napoleon Hill selalu sukses. Doi mengalami 7 kali kegagalan besar sepanjang hidupnya sebelum menulis buku ''Think and Grow Rich'' yang keren banget itu.

• Woody Allen, seorang penulis, editor, dan penerbit yang telah mendapatkan anugerah Academy Award pernah gagal dalam ujian bahasa Inggris dan gagal membuat film di universitas New York.

• Ide mesin Xerox pernah ditolak oleh 20 perusahaan dalam 7 tahun sebelum akhirnya diterima.

• Malcom Forbes, mantan Editor Eksekutif Majalah Forbes pernah gagal menjadi staf surat kabar kampus semasa dia menjadi mahasiswa.

• Tau raja bisnis Henry Ford kan say? Doi pernah bangkrut, not only once, but FIVE TIMES!

• Siapa yang ga pernah baca seri Chicken Soup for the Soul? Ternyata e ternyata, naskahnya sebelumnya udah ditolak 33 penerbit karena para editor beranggapan bahwa kumpulan cerita tersebut tidak laku di jual. Eh, gataunya menjelang 1998, seri Chicken Soup ini terjual lebih dari 30 juta diseluruh dunia dan diterbitkan dalam 30 bahasa.
Btw, novel Gone with the Wind yang memecahkan rekor dalam sejarah penerbitan dimana 50.000 buku telah terjual dalam tempo satu hari, udah diterjemahkan kedalam 30 bahasa dan kemudian menjadi film paling populer yang pernah di hasilkan, ternyata juga sebelumnya ditolak oleh penerbit Hollywood. [pelajaran moral: don’t trust editor, mereka banyak yang sotoy].

• Ketika Billi menawarkan naskah "Dare To Fail" kepada sebuah penerbit pada tahun 1996, ternyata di tolak dengan alasan berikut: "Kamu bukan Dale Carnegie atau Norman Vincent Peale. Siapa jugaaaa yang mau baca elo punya buku?". Sejak saat itu "Dare toFile" telah diterjemahkan dalam 7 bahasa. Kata Billi: ''Ditolak tidak berarti sudah kiamat. Penolakan hanyalah soal beda pendapat.'' [lagi-lagi, don’t trust book publishers, they could be the most sotoy persons ever]


RACUN 3: GA ADA MODAL. Sukses ternyata bukan masalah modal duit or whatsoever. Banyak yang mengawali dari NOL, dan JADI!

• Abraham Lincoln –presiden USA godekan yang terkenal itu- ikut perang Blackhawk dengan pangkat kapten. Setelah perang selesai, dia di turunkan menjadi prajurit biasa.

• Ketika Sidney Poitier meninggalkan Bahamas untuk merantau ke New York, dia cuma punya US$3 dalam sakunya; dan dia bukanlah seorang yang pandai membaca. Dia pernah tinggal di atas loteng tanpa atap dan menopang hidupnya dengan mencuci piring.

• Ray Charles, Jose Feliciano, dan Stevie Wonder semuanya sama dalam satu hal: mereka buta. Oya, tau dong Hellen Keller yang buta tuli dan bisu. Harusnya kita malu karena tidak buta tidak tuli tidak bisu tapi ga bisa melakukan hal yang dilakukan Hellen. Doi belajar dengan susah payah dengan cara gurunya menuliskan kata-kata di tangannya, sedangkan kita yang bisa baca buku, nonton tipi dan denger kuliah tanpa kesulitan masih aja punya prestasi mediocre, kadang2 payah ;)


See. Masalahnya bukan terletak pada masalah, namun pada how to deal with them. Racun pasti selalu ada, thus, we only need to prepare antibiotik :D.
Cheers ahhh.

Selasa, Januari 19, 2010

Avoiding Common Errors: Making an Impressive Presentation

Sering sekali teman-teman di kelas mengomentariku saat sedang mendapat jatah presentasi di depan kelas, ”Your presentation was so impressive. I haven’t got any idea about the journal before you make it easy to grasp through your presentation”, atau, “Beda yah presentasi Widyaiswara, auranya aja udah berasa” or any other comments alike.

To tell them the truth, it’s not because I’m a widyaiswara, mengingat akupun amat baru menjabat sebagai WI dan bahkan belum punya jam terbang. Dan tidak harus menjadi WI untuk punya skill dalam presenting sesuatu. Seorang marketerpun, bahkan praktisi MLM, sudah selayaknya belajar public speaking atau sekurang-kurangnya teknik presentasi untuk menjalankan duty-nya.

Ada banyak sekali pakar komunikasi yang membahas tentang teknik presentasi, membuat pidato yang mengesankan, menaklukkan percakapan sulit, sampai menjadi jago public speaking yang memotivasi dan menggairahkan audience. Sebagian guidance book yang gampang diikuti adalah TALK-inc points-nya trio Alexander Sriewijono, Becky Tumewu dan Erwin Parengkuan, Smart Public Speaker-nya Randy Fujihsin, serta beberapa buku lain. Teknik-teknik yang dipaparkanpun universal dan bisa diterapkan pada tiap setting dan tujuan presentasi. Intinya keterampilan interpersonal, salah satunya dalam berbicara didepan publik, is not something gifted, but learnt. Dan jam terbanglah yang menyempurnakannya seperti a proverb says: practice makes perfect.

Berdasarkan pengalaman menyaksikan banyak sekali presentasi, ada hal-hal yang aku kenali sebagai ‘common errors made by a presenter’ yang terkesan remeh-temeh namun punya impact yang besar terhadap audience.

1. Unclear purpose
Sering sekali presentasi dilakukan tanpa audience bahkan presenternya sadar tujuan apa yang hendak dicapai dalam presentasi ini. Tidak memiliki tujuan yang jelas akan membuat presentasi wandering all around, dan sulit diukur tingkat keberhasilannya [bagaimana mau mengukurnya jika yang diukur saja tidak jelas?]. That’s why, penting sekali untuk menyatakan tujuan [objective] dan overview [agenda] yang komprehensif sebelum benar-benar masuk dalam inti presentasi. Kejelasan tujuan ini juga akan membuat presenter mudah menentukan metode presentasinya, apakah dalam presentasinya ia perlu berargumentasi, atau sekedar memaparkan, atau menceritakan secara elaboratif, atau menginstruksi?

2. Complicated sentences
Sering sekali kalimat-kalimat yang dipakai dalam slide maupun yang digunakan presenter secara lisan adalah kalimat-kalimat panjang, rumit yang justru tidak menyampaikan pesan secara utuh, bahkan seringkali mengundang misinterpretasi oleh audience. Please simplify yours, ini akan amat membantu mentransfer pesan pada audience.

3. Poor Ms. Powerpoint
Ada kesan bahwa masih banyak orang yang ‘terjebak’ untuk menggunakan Ms. Powerpoint sebagai media pengalih dari Ms. Word belaka, dalam artian mereka masih menggunakan paragraf-paragraf padat dan bukannya pointers. We don’t need to expose too much information on the slides. Hal penting lainnya adalah: seringkali powerpoint dibuat dengan sekenanya saja, tanpa memperhatikan unsure estetika yang bersahabat dengan mata audience. Please make sure that the contrast is okay, dan tidak menyakiti mata audience.

4. Not presenting, but Reading!
Ini tampaknya amat lazim dilihat pada banyak sekali presentasi yang pasti mujarab membuat pendengarnya ‘terbang berjamaah’ ke alam mimpi karena terngantuk-ngantuk di kursinya. Presentasi sama sekali bukan reading session, jika seorang presenter hanya mau membacakan slide-nya, why should he who does? Audience toh bisa membacanya sendiri dan dengan demikian sesi presentasi menjadi tak diperlukan lagi. Please stop reading and start presenting. Tentu karenanya kita perlu menguasai contents dengan baik, namun kita masih bisa mengandalkan coret-coretan pada kertas kecil di tangan jika kita kuatir akan melewatkan poin-poin penting.

5. Being less enthusiastic and monotonous
Slide dibuat dengan monoton, disajikan juga dengan monoton, maka jangan terlalu berharap audience akan tertarik untuk menyimak dengan antusias. Antusiasme itulah yang justru harus ditularkan seorang presenter pada segenap audiencenya. Salah satu tips penting untuk membuka presentasi, menularkan aura positif, sekaligus meredam kegugupan, adalah TERSENYUM! Tentu tersenyum tulus, bukan tersenyum grogi [merasa inferior] atau justru tersenyum arogan [merasa superior].

6. Being Lebay
Ada kecenderungan untuk menggunakan animasi atau audio visual effect pada presentasi kita, yang kadang-kadang malah berlebihan dan tidak perlu bahkan mengganggu. Jika presentasi kita bersifat formal, sedapat mungkin tampilkan kesan serius dengan mengeliminasi hal-hal tersebut. Jikapun ingin menggunakan gambar, pilihlah dengan cermat hingga keberadaannya akan mengefektifkan penyampaian pesan dan bukannya sebaliknya. Menggunakan humor dalam presentasipun baik jika tidak berlebihan dan justru mengaburkan esensi presentasi itu sendiri.

7. Not Mastering What We Deliver.
Bagaimana content bisa dikuasai oleh audience jika sang presenternya sendiri masih gagap, tidak meyakinkan, dan tidak menguasainya dengan baik? We should really know what we are talking about. Menyampaikan apa yang tidak kita kuasai hanya akan membuat kita tampak konyol dan tidak berwibawa dihadapan audience.

8. Not well-groomed
Percayalah, saat kita bicara dihadapan banyak orang, segenap pasang mata itu akan menyorot kita dari ujung rambut hingga ujung kaki. So, please make sure that your outfit makes you confident! Menginvestasikan uang pada outfit yang baik tentu bukan pemborosan. Pernah suatu kali aku mengikuti diklat yang diisi oleh seorang model ternama untuk mata diklat terkait performance saat presentasi. Ia memberikan banyak sekali kiat bermanfaat terutama tentang how to be well-groomed at the stage. Namun teman-teman disampingku kasak-kasuk membahas sang model yang tampak tidak profesional dengan sepasang sepatunya yang sudah ‘mangap’ dengan parahnya. Mungkin sang model kurang aware tentang itu, bukannya tak mampu membeli dengan yang baru. Namun kekurangpekaan ini berakibat fatal karena mengurangi kredibilitas sang model.

Lain waktu, audience merasa ‘terganggu’ dengan penampilan seorang narasumber yang hanya mengenakan sepasang sandal teplek seolah dirinya sedang ingin pergi ke pasar dan bukannya menghadiri –bahkan menjadi narasumber- sebuah forum penting dimana para audience-nya mengenakan jas, dasi dan blazer lengkap. Salah satu cara menghargai audience adalah dengan tampil well-groomed dan profesional.


9. Mind your Body Language.
Selama ini kita selalu diwanti-wanti bahayanya pesan yang diperoleh dari body language yang ‘berada diluar kontrol’ kita. Saat menyaksikan talkshow Just Alvin di MetroTV yang sedang menghadirkan seorang artis senior yang baru menerima award atas prestasinya di dunia akting, aku benar-benar baru menyadari bahwa having bad body language is really a disaster! Sepanjang obrolan dengan Alvin, sang artis tampak jarang mengeluarkan kata-kata yang bersifat superior, namun seluruh body language sang artis, mulai dari tatapan matanya, kebiasaannya menunjuk-nunjuk lawan bicara, kebiasaannya memotong-motong omongan lawan bicara, termasuk senyum arogannya, benar-benar lengkap menyampaikan pesan tersembunyi bahwa sang artis benar-benar merasa superior. Aku jadi jengkel sekali mengikuti obrolan yang lantas terasa sangat nggak penting itu, namun sekaligus berpikir: ‘aku begitu ga ya waktu ngobrol dengan orang?’.

Kebiasaan ‘lazim’ lain yang juga mengganggu adalah cara presenter meredam kegugupan dan menenangkan diri dengan melakukan gesture tertentu secara berulang-ulang, memasukkan tangan kedalam saku,

Lain waktu saat mengikuti sebuah diklat, seorang narasumber yang melakukan eye-contact secara merata pada segenap isi ruangan, dan tatapan hangatnya menyampaikan penerimaan yang tulus pada seluruh audience, maka saat itu aku benar-benar merasa sekali pentingnya membuat audience merasa dihargai keberadaannya dengan cara mempertahankan salah satu body language yang sering diabaikan banyak orang: eye contact.

By avoiding such common errors, I do believe that everybody can make an impressive presentation. No doubt about that :)

Kamis, Agustus 20, 2009

Melahirkan Masterpiece, Apapun Profesi Kita


Martin Luther King mungkin terdengar lebai saat berkata ini: "Jika seseorang terpanggil untuk menjadi tukang sapu jalanan, hendaknya ia menyapu jalanan sebagaimana Michael Angelo melukis dan Beethoven menciptakan musik, atau Shakespeare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu dengan sangat baik hingga segenap isi surga dan bumi menghentikan kegiatan mereka dan berkata: Disini tinggal seorang penyapu jalanan yang agung yang menjalankan tugasnya dengan amat baik!”. Walaah. Bagaimana mungkin mengharapkan kinerja seorang tukang sapu menyamai para maestro bertangan dingin yang telah melahirkan banyak masterpiece?

That’s what I think sampai kemudian aku berinteraksi dengan seorang tukang koran yang biasa mangkal di los Komperta Plaju, dekat toko-toko dimana orang biasa membeli berbagai kebutuhan mulai dari sembako hingga ATK. Disitu mangkal pula berbagai macam jualan makanan mulai dari warung nasi goreng dan bakso (dulu jaman sekolah disinilah tempat favorit nraktir kalo ada yang ulangtahun), Ayam Kalasan, martabak telor, roti bakar Bandung, burger, sampe gorengan. Ada juga toko fotokopi dan beberapa lapak yang menjual koran dan majalah.

Banyak tukang koran yang ramah, they’re everywhere. But I mean, this person, bukan hanya sekedar ramah tapi tampak sangat menikmati apa yang dilakukannya, bahkan (tampak) amat menikmati hidupnya. U will know what I mean if you look at his eyes. “Korannya ibu..!“, sapaan wajib itu selalu dilakukannya dengan senyum tulus yang lebar. Aku bahkan melihat matanya bersinar-sinar oleh semangat dan harapan. “Majalah X baru udah terbit bu, majalah Y juga. Atau mau majalah Z? Edisi khusus lho bu!”, saat aku membacai headline berbagai koran atau highlight pada cover berbagai majalah, dia pasti mengiringi dengan sekilas ‘guidance’. Bahkan jika aku berdiri lama disitu untuk membaca sebuah artikel yang menarik sekalipun, dia akan tetap sabar menanti sambil berkata, “Boleh bu, diliat-liat dulu..”, dengan wajah yang amat cerah. Setelah mengobrak-abrik dagangannya dan akhirnya memilih satu dua atau tiga diantaranya, ia akan berkata, “Oke ibu, jadi total semuanya Rp 25.000, “ Jika ternyata sebenarnya adalah Rp 25.500, misalnya. Kadang aku berpikir, bukannya kita yang mensodakohkan uang kembalian tapi justru tukang koran yang mensodakohkan margin keuntungannya yang ga seberapa.

Pernah saat ia kehabisan kantong kresek dia berkata, “Tolong tunggu sebentar ya Bu, saya beli kantong kresek dulu”. Ia bela-belain mau membelikan kantong kresek untuk membungkuskan koran yang harganya ga seberapa. “Ga usah Pak, begini aja”, tolakku langsung. “Makasih bu ya…”, katanya dengan wajah lega, lalu dengan sigap mengaturkan arus lalu lintas agar kendaraan kita bisa lewat dengan nyaman. Bayangkan, bahkan ia berperan sebagai tukang parkir! Dan itu dilakukannya dengan senyuman yang tak pernah surut, dan wajah yang amat cerah. Aku amat mengenali tipikal wajah seperti itu; bukan wajah yang tersenyum karena menghendaki sesuatu dari kita, bukan wajah yang tersenyum karena merasa tertuntut untuk itu, bukan juga wajah yang tersenyum dalam penyamarannya untuk terlihat bahagia. He’s totally not fake.

What I’m going to say is: bahkan seorang tukang koranpun telah sukes menularkan aura positif pada orang-orang sekitarnya, tanpa dia niatkan. Don’t forget that he’s only a newpaper vendor! Aku benar-benar tidak pernah melihat orang jualan seceria itu! Yang dijual hanya koran, namun seolah-olah yang membeli adalah customer super penting yang hendak membeli berlian. Sangat berbeda dengan kebanyakan pedagang yang menjalankan ‘tugas’nya dengan amat standard, bahkan seadanya (Kecuali kita sedang menghadapi transaksi super mahal). See? Ilmu marketing selama ini mengajarkan kompetensi untuk melakukan pelayanan public yang excellent, tapi itu lebih atas asas profit-oriented. Training-training berbudget mahal yang diperuntukkan untuk public relations, staf marketing, resepsionis, atau apapun yang menjadi garda terdepan yang memegang pencitraan perusahaan, hampir selalu dealing with changing behavior, not changing the PARADIGM. Masih untung jika marketernya sendiri yang dengan kesadaran penuh untuk memiliki paradigma untuk berprinsip: I do deeds not because the people are nice, but because I am! (“Gue baik bukan karena lo-lo pada baik ama gue, tapi karena emang gue orangnya baik!”). I really think that, orang-orang seperti ini sungguh merupakan aset penting bagi tempatnya bernaung, karena ia akan bisa diandalkan tanpa mengenal cuaca dan musim.

Seorang sahabat berkata, “Orang-orang besar itu bukan besar karena mengejar kebesaran, tapi karena they love what they’re doing. The rest will follow”. To tell the truth,I really think so. Performa orang-orang yang mencintai pekerjaannya sangat mengagumkan. They do something NOT because are asked to do so, but because they want to do so. Logikanya saja, hasil kerja siapa yang akan lebih baik: mereka yang kerja karena perintah atasan semata-mata, atau mereka yang memang terpanggil & cinta sama pekerjaannya? Or I change the question: yang mana yang akan lebih kelihatan hepi saat kerja? I hope this is rhetoric :).

Maybe if we love what we’re doing and perform the best of us on it, kita sudah masuk pada kriteria yang disebut Oom Martin Luther King tadi. I believe that, melahirkan masterpiece bukan monopoli orang-orang besar, dan apa yang disebut sebagai hal besarpun, sebenarnya akumulasi dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan excellent secara konsisten. Mungkin kita bisa mulai benih-benih excellence itu, dari meja kerja dihadapan kita? Yuk mariii..

Selasa, Mei 12, 2009

Dale Carnegie Syndrome


Pada hari yang sama saya berangkat ke Bandung untuk workshop Capacity Building Tahap II, bossku (baca: ayah) terbang ke Surabaya untuk mengikuti Dale Carnegie Training, sebuah Pelatihan Pengembangan Diri yang diselenggarakan Dale Carnegie Indonesia untuk Pertamina Learning Center. Ternyata secara kebetulan, pada waktu yang sama dan pada hotel yang sama dengan saya, berlangsung pula Dale Carnegie Training yang entah diikuti oleh corporate mana. Serta merta saya jadi terpikir: hari gini ternyata masih ngetren ya Dale Carnegie syndrome?

Dale Carnegie memang nama yang besar dalam dunia motivasi dan pengembangan diri, selain tentu saja Napoleon Hill (yang terkenal dengan best sellernya The Power of Positive Thinking), Anthony Robbins (Awaken the Giants within You’), David Schwartz (bapak ‘The Magic of Thinking Big’), lalu diikuti ‘era baru’ milik Stephen Covey (Seventh Habits) dan lain-lain. Saya masuk dalam ‘arus’ Dale Carnegie (selanjutnya sebut saja DC) saat membaca salah satu best seller-nya Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda yang pertamakali saya baca semasa SMP. Bisa dikatakan semua pemikiran DC memang inspiratif dan memperkaya perspektif. Tak heran jika pengaruh DC amat meluas bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

Ari Ginanjar Agustian –bapak ESQ Indonesia- pernah menyinggung DC seperti ini:

Jika kita pelajari isi keseluruhan buku DC ‘Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain’ maka Anda akan merasakan bahwa semuanya adalah penjabaran dari sifat rahman dan rahim kepada sesama manusia. Kita tahu sifat tersebut milik Tuhan. Suara hati kitapun akan membenarkan hal ini. Namun secara prinsip berbeda; yaitu antara prinsip yang memberikan kasih sayang karena Allah SWT dibandingkan prinsip bukan karena Allah. Itulah perbedaan yang mendasar.

Lalu saat membahas efektivitas Bismillahirrahmanirrahim pada bahasan salah satu Zero Mind-nya, Agustian juga menyebut-nyebut DC dengan lebih signifikan:

Prinsip Bismillah, bersumber dari suara hati terdalam, akan menghasilkan sikap-sikap yang mampu mencerminkan sifat rahman dan rahim: memberi perhatian pada orang lain, empati, mau mendengar, senang menolong, selalu mengucapkan terimakasih, suka menghargai, memberikan senyum yang tulus. Anda mungkin berpikir bahwa hal diatas sama dengan teori DC. Saya ingin menekankan hal yang sangat penting dan mendasar, yang membedakan prinsip Bismillah dengan teori DC.

Prinsip Bismillah mampu menghasilkan teori-teori DC karena bersumber dari suara hati yang rahman dan rahim, suatu kesadaran diri bahwa manusia adalah aset Allah yang harus dihargai. Sedangkan teori DC didasari pada prinsip menghargai orang lain dengan tujuan bisa memperoleh teman dan pengaruh. Jika penganut konsep DC kehilangan penghargaan dari orang lain, niscaya dia akan goyah. Namun orang dengan prinsip Bismillah, bahkan kehilangan penghargaan atau dihina sekalipun, tidak akan goyah karena berpegang pada Tuhan, bukan kepada manusia.

Agustian lalu mencontohkan prinsip Bisimillah:

Suatu hari Nabi Muhammad SAW didatangi seorang nenek tua, beliau menghamparkan sorbannya sebagai alas duduk si nenek, dan lalu selama satu jam dihabiskan untuk berbincang-bincang. Anda tahu materi pembicaraannya? Rasulullah hanya mendengarkan si nenek bercerita tentang cucunya yang lucu.

Bila Rasulullah bersalaman dengan Anda, beliau akan bersalaman dengan erat sambil menatap mata Anda, tersenyum dan tidak melepaskan genggamannya sampai Anda sendiri yang melepasnya. Dan Nabi Muhammad SAW belum pernah ikut kursus Dale Carnegie pada masa 1400 tahun yang lalu :)

Lantas bagaimana Agustian menempatkan gempuran literatur pengembangan diri yang berfokus pada pentingnya keterampilan pembentuk kepribadian sebagai penuntun kesuksesan? Bahwa keberhasilan seseorang banyak ditentukan oleh teknik membuat orang lain senang dengan cara tersenyum, berfokus pada minat orang lain, mengingat nama orang dan lain sebagainya.

Agustian secara jelas menyatakan bahwa,

Pada prinsipnya saya merasa semuanya sebatas teori yang menyentuh permukaan yang tak mampu menerobos akarnya. Akibatnya menghasilkan orang yang berprinsip pada penghargaan semata. Literatur baru lalu memperkenalkan arti paradigma, visi, dan kemenangan publik, yang dianggap lebih menyentuh sisi terdalam manusia. Disini ditekankan pentingnya berpusat pada prinsip, namum tak jelas prinsip apakah itu. Jika kita pelajari semua, kita akan menyadari bahwa sebenarnya Pikiran Bawah Sadar baik menurut Napoleon Hill, Keajaiban Berpikir Besar menurut David J.Scwartz, Ph.D, maupun Kecerdasan Emosi menurut Robert K. Cooper, Ph.D., memiliki kaidah yang sama namun berbeda nama. Itulah bentuk usaha pencarian mereka akan kebenaran, yang pada akhirnya akan tiba di suatu sumber, baik sadar atau tidak. Semua akan mengakui kebenaran Allah SWT dan Alquran pada akhirnya. Umumnya orang-orang menjadikan buku-buku barat atau ilmu pengetahuan sebagai pegangan dan kiblat, atau bertuhan pada ilmu, bukan pada pemilik ilmu, yaitu Sang Pencipta Ilmu.

Saya tidak serta merta antipati pada tokoh-tokoh pemikir, motivator, ahli pengembangan diri dan self-help dari barat, bahkan sampai sekarang masih suka juga membaca buku-buku seperti itu. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah seri Don’t Sweat-nya Richard Carlson, Ph.D, dan yang paling relevan adalah Don’t Sweat the Small Things at Work, yang semua poinnya tampaknya ditujukan pada saya, yang punya kebiasaan membesar-besarkan masalah kecil terkait office life :D. I think, practical guide-nya cukup membantu. Namun sekali lagi, be aware that, the essence of living selalu lebih dalam dari hanya sekedar tuntunan praktis yang ditawarkan buku-buku semacam itu. Pada akhirnya toh kita akan turning into some higher points, dimana kita membutuhkan tuntunan yang lebih mendalam dan menyentuh seluruh kesejatian kita sebagai mahluk Tuhan. Itulah yang menjelaskan mengapa kita lebih merasa tenteram setelah menghibur diri dengan membaca La Tahzan-nya Dr. Aidh Al-Qarni dibanding setelah membaca Happy People: 100 Rahasia Membuat Hidup Bahagia-nya David Niven, Ph.D meski yang terakhir ini tampak lebih saintifik karena merupakan hasil riset para ilmuwan tentang sikap hidup yang menciptakan kehidupan.

Moral lesson dari tulisan ini: daripada corporate membayar mahal untuk mengkursuskan karyawannya pada Dale Carnegie Training, lebih baik diikutsertakan saja pada Pelatihan ESQ deh! Saya baru sempat mengikuti re-training-nya pada lembaga tempat mengajar dulu –mudah-mudahan tidak basi untuk mengikutinya nanti-nanti. Saat ayah diikutsertakan perusahaan pada ESQ Leadership Training, saya juga melihat ini investasi penting bagi pengembangan diri dan corporate. ESQ menggugah dan mengubah kehidupan karena berbeda dari pelatihan lain dan bukan sekedar pelatihan kepemimpinan atau manajemen biasa. Mengutip brosur pelatihannya, ESQ Training merupakan pelopor pelatihan yang mengasah sisi spiritual dengan mendalam, bersamaan dengan sisi emosi dan intelektual seseorang. ESQ hadir untuk siapa saja yang berkeinginan untuk membentuk karakter manusia paripurna. ESQ juga upaya untuk menjembatani rasionalitas dunia usaha dengan prinsip ketuhanan. Melengkapi makna sukses dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam, menuju esensi hidup bahagia yang sesungguhnya.

The last one is, for your information, Dale Carnegie yang pemikirannya memotivasi jutaan orang di berbagai belahan dunia itu (that’s what I call DC syndrome ;)), ternyata mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara bunuh diri. See? Ternyata amat dangkal konsep hidup yang tidak dimuarakan pada kedalaman sisi-sisi spiritual manusia.

Selasa, April 21, 2009

Urgent bagi (Calon) Widyaiswara



Keikutsertaan saya pada seleksi CPNS Departemen Agama untuk posisi Widyaiswara pada tahun 2006 lebih karena ‘kebetulan’ saja. Sebagai fresh graduate –meski telah bekerja- saya ikut-ikutan melamar tes CPNS Pemprov Kota Palembang untuk posisi Translator dan Depag dengan posisi Widyaiswara, namun karena memang waktunya bersamaan saya memilih test di Depag dengan pertimbangan status sebagai PNS pusat bersifat vertikal. Jadi bukan karena saya memang ingin menjadi widyaiswara (selanjutnya kita sebut WI), karena saat itu apa itu WI saja saya nggak mudeng.

Istilah ‘tenaga pengajar/pendidik’ kerapkali diidentikkan dengan profesi guru dan dosen, meskipun kemudian ada lagi istilah instruktur atau tutor terutama pada pendidikan nonformal. Namun ternyata ada satu lagi profesi yang dekat dengan dunia pelatihan dan pendidikan yang disebut sebagai Widyaiswara. Secara etimologis Bahasa Sansekerta/Kawi, widya berarti ilmu dan iswara berarti ratu/penyampai. Dus, secara harfiah istilah widyaiswara dapat dimaknakan sebagai seorang yang mumpuni secara ilmu. Tapi sebenarnya profesi seperti apa WI itu?

What is Widyaiswara?

PERMENPAN Nomer 66 tahun 2005 mendefenisikan Widyaiswara sebagai PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengembangan dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pada Lembaga Pendidikan dan Latihan Pemerintah. Sedangkan versi Lembaga Administrasi Negara (LAN), WI adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.

Bagaimana Jenjang Karirnya?

Ada empat jenjang pangkat Widyaiswara:

1. Widyaiswara Pertama (golongan III/a dan III/b): melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Dasar,

2. Widyaiswara Muda (III/c dan III/d), melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Lanjutan,

3. Widyaiswara Madya (IV/a, IV/b, dan IV/c) melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Menengah

4. Widyaiswara Utama (IV/d dan IV/e) melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Tinggi,

What’s the Job Desc?

Ada 18 tugas utama dan 4 tugas penunjang yang menjadi indikator kinerja seorang WI:

1. Melakukan Analisis Kebutuhan Diklat

2. Menyusun Kurikulum Diklat

3. Menyusun Bahan Ajar

4. Menyusun GBPP/SAP/Transparansi

5. Menyusun Modul Diklat

6. Menyusun Tes Hasil Belajar

7. Melakukan Tatap Muka Di Depan Kelas

8. Memberikan Tutorial Diklat Jarak Jauh

9. Melakukan Pengamatan Proses Diklat

10. Penanggung Jawab Pengelola Program Diklat

11. Anggota Pengelola Program Diklat

12. Membimbing Peserta Dalam Penulisan Kertas Kerja

13. Membimbing Praktik Kerja Lapangan

14. Menjadi Fasilitator/Moderator/Narasumber Seminar Diklat

15. Memberikan Konsultansi Penyelenggaraan Diklat

16. Melakukan Evaluasi Program Diklat

17. Mengawasi Pelaksanaan Ujian Diklat

18. Memeriksa Jawaban Ujian Diklat

19. Menyusun Karya Tulis/Karya Ilmiah Lingkup Kediklatan

20. Menterjemahkan/Menyadur Buku Dan Bahan-Bahan Lain

21. Membuat Buku Pedoman/Juklak/Juknis

22. Pelaksanaan Orasi Ilmiah

23. Menjadi Tim Penilai Widyaiswara.


Kompetensi Apa yang Diperlukan Oleh Seorang Widyaiswara?

Untuk menunjang uraian tugasnya, setidaknya ada tiga jenis kompetensi yang menjadi prasyarat bagi seorang Widyaiswara yaitu KSA: Knowledge, Skill and Attitude.

1. KOMPETENSI PENGETAHUAN

Menguasai pengetahuan/substansi mata ajar yang diampu

Mampu mengoperasikan OHP, LCD, laptop dan internet

Memahami psikologi belajar orang dewasa

Berwawasan dan peka informasi

Memahami teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran

Kemauan untuk tetap belajar dan gemar membaca

Mengikuti perkembangan/substansi yang diampu

Kemampuan manajerial

Penguasaan substansi, materi sesuai dengan pedoman kediklatan

2. KOMPETENSI KETERAMPILAN

Keterampilan mentransfer pengetahuan

keterampilan mengelola kelas

kemampuan mengoperasikan teknologi informasi, OHP, komputer, internet, laptop, LCD;

3. KOMPETENSI PERILAKU

Kemampuan berpresentasi efektif;

Kemampuan berkomunikasi

Kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris;

Berbusana yang sesuai

Keterampilan memotivasi peserta diklat.


THE MULTI-FUNCTIONED WI

Ada beragam peran yang sebaiknya diemban seorang WI dalam menghandle diklat mencakup:

1. Fasilitator

2. Moderator

3. Motivator dan Inspirator

4. Inovator dan Dinamisator

5. Konsultan

6. Peneliti


Bagaimana Prosedur Menjadi WI?

Mengantongi SK CPNS sebagai Calon Widyaiswara tidak serta merta membuat seseorang positif untuk menjabat sebagai WI. Berbeda dengan guru atau dosen yang semasa CPNS-nya telah bisa menjalankan tugas-tugas mengajar, seorang calon WI harus menempuh Diklat Calon Widyaiswara sekaligus test yang diadakan bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI sebagai dasar untuk direkomendasikan atau tidak direkomendasikan sebagai WI. Pada beberapa tahun belakangan Diklat Cawid berlangsung dalam durasi 40 hari yang diadakan Pusdiklat masing-masing departemen dengan peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.

Sebagai cawid Depag, saya dan teman-teman mengikuti Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Diklat Teknis (Diklat Calon Widyaiswara) pada Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan di Ciputat, kerjasama Departemen Agama dan Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN yang berlangsung pada 28 Oktober s.d 02 Desember 2008 lalu. Ada 30 peserta yang berasal dari Pusdiklat dan 11 Balai Diklat Keagamaan (minus Balai Diklat Bandung) serta 4 peserta tamu dari Departemen Perdagangan. Bayangkan saja, durasi diklatnya menyamai Diklatpim bagi para pejabat eselon III dan IV. Sempat juga diadakan Observasi Lapangan (OL) ke Bandung selama 3 hari.

Sebagai pembekalan bagi para cawid, kurikulum diklat didesain sangat padat yang mencakup:

  1. Pengantar Pendidikan
  2. Psikologi Pendidikan
  3. Belajar dan Pembelajaran
  4. Pendidikan Orang Dewasa
  5. Desain Pembelajaran
  6. Pengembangan Bahan Ajar
  7. Evaluasi Pendidikan
  8. Strategi Belajar dan Pembelajaran
  9. Manajemen Pembelajaran
  10. Penelitian Tindakan Kelas
  11. Kemampuan Dasar Mengajar
  12. Praktik Mengajar
  13. Teknik Penulisan Karya Ilmiah
  14. Pengembangan Kurikulum
  15. Konseling Orang Dewasa
  16. Pemaparan Spesialisasi

Keenam belas mata diklat yang diwajibkan untuk diikuti para cawid ini amat membantu mereka yang berlatar belakang non-kependidikan, mengingat latar belakang para cawid amat heterogen. Memang rata-rata para cawid sudah S2, meski masih ada yang belum kelar atau malah baru akan kuliah lagi (seperti saya :D). Sempat pernah ada perasaan inferior pada awalnya, termasuk karena saya dan seorang teman yang satu unit kerja di Balai Diklat Keagamaan Palembang adalah peserta paling muda secara usia. Namun hanya satu kata yang menolong kami dari drowned into the bottom of inferiority: bisaaaaaaaaaa!! ;)

Tiap mata diklat selalu diakhiri dengan post test yang disyaratkan minimal 71 dengan rata-rata keseluruhan program minimal 71. Dengan padatnya jadwal diklat, konsentrasi para peserta masih harus dipecah untuk mempersiapkan kelengkapan administratif yang luar biasa banyak sampe bikin senewen, plus persiapan bahan paparan untuk test kompetensi pada dua hari terakhir. Memang terdapat dua tahapan seleksi bagi calon WI, yang mencakup seleksi administrasi (pemberkasan) dan seleksi kompetensi (paparan). Ini dia syarat administratifnya:

  1. Surat usulan dari Pejabat Pembina Kepegawaian di Instansi ke Kepala LAN.
  2. Cawid Lulus Diklat Calon Widyaiswara.
  3. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana/D-IV dari PT yang terakreditasi.
  4. Cawid mengisi Lembar Biodata yang disahkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian di instansinya
  5. Usia Maksimal 50 tahun pada saat SK Pengangkatan.
  6. Melampirkan SK Pengangkatan/pemberhentian dalam/dari jabatan terakhir.
  7. Melengkapi Daftar Riwayat Hidup, DP-3 terbaru, Ijazah/ Sertifikat/kegiatan ilmiah/TOT kewidyaiswaraan.
  8. Menyusun Rencana Kerja Diklat individu – minimal 500 JP.
  9. Melampirkan Program Diklat di Unit Diklat satu tahun berjalan.
  10. Surat Keterangan Pengalaman mengajar di Diklat-diklat PNS.
  11. Karya Tulis Imiah (KTI) yang pernah dibuat/disusun/diterbitkan.
  12. Menetapkan minimal 2 Spesialisasi Diklat (satu untuk paparan, yang lainnya sebagai cadangan bila mengulang).
  13. Melengkapi sebanyak 2 rangkap spesialisasi yang akan dipaparkan, dan 1 rangkap spesialisasi yang tidak dipaparkan yang meliputi: RBPMD/GBPP, RP/SAP, Bahan Ajar/Modul, dan Copy transparansi (OHT).
  14. Pas Foto terbaru 3 x 4 sebanyak dua buah.
  15. Melampirkan Daftar Usulan Perolehan Angka Kredit (DUPAK) Calon Widyaiswara beserta bukti fisik.

Item-item yang dicetak tebal adalah syarat yang cukup ‘merepotkan’ dan time-consuming. Para peserta terkondisikan untuk kurang tidur karena bergadang malam-malam untuk menyicil melengkapi semuanya. Untuk menghindari kantuk yang mudah menyerang, biasanya kami pada ngerjain bareng di kelas hingga keramaian membuat suasana tidak begitu bikin stres.

Untuk selanjutnya, jika urusan berkas sudah dinyatakan oke, Cawid bisa mengikuti seleksi kompetensi berupa paparan spesialisasinya dengan unsur penilaian berikut:

  1. Penguasaan Materi/ Esensi Spesialisasi
  2. Relevansi Materi dengan Tujuan Pembelajaran
  3. Sistematika Penyajian
  4. Penggunaan Metode dan Alat Bantu Pengajaran
  5. Keterampilan Menjawab Pertanyaan
  6. Daya Simpatik, Gaya, dan Sikap dalam penyajian
  7. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  8. Kualitas Bahan Diklat (RBPMD/GBPP,RP/SAP,Bahan Ajar/Modul, Transparansi/Slides)
  9. Ketepatan waktu dalam penyajian
  10. Keterampilan Bahasa Inggris

Sekitar tiga bulan setelah diklat usai, Rekomendasi LAN keluar. Ini berarti populasi WI Depag yang mulanya hanya sekitar 355 orang dari total WI seluruh departemen RI yang berjumlah 7256 orang telah bertambah lagi. Memang yang direkomendasikan untuk menjadi WI tidak 100%, namun merujuk pada mekanisme seleksi cawid Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN sesuai PP 101 th. 2000 dan Peraturan MENPAN No. PER/66/M.PAN/6/2005, jika dinyatakan belum berhasil pada satu kali test, peserta dapat mengulang sekali lagi dengan mengajukan surat pengusulan kembali. Saya kebetulan direkomendasikan untuk diangkat menjadi Widyaiswara Pertama dengan Perolehan Angka Kredit sebanyak 143,55.

Dengan tunjangan yang relatif tinggi dan batas usia pensiun diatas 56 tahun serta kesempatan untuk pengembangan karir secara mandiri membuat banyak PNS yang berminat ‘beralih fungsi’ menjadi WI, diluar rekrutmen cawid dari seleksi CPNS. Bahkan fenomena yang ada sekarang, para pejabat yang akan memasuki usia pensiun banyak yang pindah menjadi WI untuk memperpanjang masa kerja. Terlepas dari itu semua, bisa dikatakan WI merupakan profesi avant garde yang menyediakan banyak tantangan tersendiri. Tidak hanya tantangan seperti yang dikatakan Pak Caca Syahroni –Kepala Sie. Seleksi WI LAN- untuk mengajar orang-orang yang secara usia, pengalaman dan jabatan lebih tinggi dari kita, namun juga tantangan untuk menjaga produktivitas yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugas utama dan penunjang secara mandiri.


Saya ingin mengakhiri info dasar tentang dunia WI ini dengan moral lessons yang diperoleh pada Diklat Cawid silam. Ini ingin saya share karena sangat membekas dan penting untuk memantik api passion dalam diri..

5 Hal untuk Dimiliki Widyaiswara

1. Niat bersih

2. Membina diri untuk memiliki attitude yang baik hingga sikap mentalnya juga bisa ditransfer

3. Bekerja profesional, karena WI adalah pengembangan profesi mandiri. Jadilah WI yg memesona! Jangan jadi WI yang hobi memendekkan jam mengajar dan memanjangkan jam tidur orang..

4. Tidak mudah menyerah, menyelesaikan kesulitan apapun

5. Mengukir prestasi!

(Drs. H. Asmu’i, SH., M. Hum, Kapusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan)

Seorang WI harus menjadi Content-Expert dan Transfer-Expert!

Caca Syahroni, (Ka. Sie. Seleksi WI LAN)

Remember the characteristics of adult learners: autonomous & self-directed, have knowledge & life experiences, goal oriented, relevancy oriented, practical, and need to be shown respect.

(MH. Maliki MA, LAN)

Jadilah WI yg multiskilled, menurut Kaizen those who are multiskilled getting more chances!

(Indrawati, M. TEFL, LAN)

6 Ps: Proper Preparation and Practice Prevent Poor Performance!

(Rivoldi Siringo-ringo, M. Psi, LAN)

Lebih baik menjadi WI yg low profile tapi maju, daripada overconfident tapi jatuh...

(Ramli Haris, koord. WI Depag)


The Mediocre Teacher Tells

The Good Teacher Explains

The Superior Teacher Demonstrates

The Great Teacher Inspires

(Shinta Dame Simanjuntak MA, LAN)