Keikutsertaan saya pada seleksi CPNS Departemen Agama untuk posisi Widyaiswara pada tahun 2006 lebih karena ‘kebetulan’ saja. Sebagai fresh graduate –meski telah bekerja- saya ikut-ikutan melamar tes CPNS Pemprov Kota Palembang untuk posisi Translator dan Depag dengan posisi Widyaiswara, namun karena memang waktunya bersamaan saya memilih test di Depag dengan pertimbangan status sebagai PNS pusat bersifat vertikal. Jadi bukan karena saya memang ingin menjadi widyaiswara (selanjutnya kita sebut WI), karena saat itu apa itu WI saja saya nggak mudeng.
Istilah ‘tenaga pengajar/pendidik’ kerapkali diidentikkan dengan profesi guru dan dosen, meskipun kemudian ada lagi istilah instruktur atau tutor terutama pada pendidikan nonformal. Namun ternyata ada satu lagi profesi yang dekat dengan dunia pelatihan dan pendidikan yang disebut sebagai Widyaiswara. Secara etimologis Bahasa Sansekerta/Kawi, widya berarti ilmu dan iswara berarti ratu/penyampai. Dus, secara harfiah istilah widyaiswara dapat dimaknakan sebagai seorang yang mumpuni secara ilmu. Tapi sebenarnya profesi seperti apa WI itu?
What is Widyaiswara?
PERMENPAN Nomer 66 tahun 2005 mendefenisikan Widyaiswara sebagai PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengembangan dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pada Lembaga Pendidikan dan Latihan Pemerintah. Sedangkan versi Lembaga Administrasi Negara (LAN), WI adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.
Bagaimana Jenjang Karirnya?
Ada empat jenjang pangkat Widyaiswara:
1. Widyaiswara Pertama (golongan III/a dan III/b): melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Dasar,
2. Widyaiswara Muda (III/c dan III/d), melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Lanjutan,
3. Widyaiswara Madya (IV/a, IV/b, dan IV/c) melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Menengah
4. Widyaiswara Utama (IV/d dan IV/e) melaksanakan kegiatan untuk diklat Tingkat Tinggi,
What’s the Job Desc?
Ada 18 tugas utama dan 4 tugas penunjang yang menjadi indikator kinerja seorang WI:
1. Melakukan Analisis Kebutuhan Diklat
2. Menyusun Kurikulum Diklat
3. Menyusun Bahan Ajar
4. Menyusun GBPP/SAP/Transparansi
5. Menyusun Modul Diklat
6. Menyusun Tes Hasil Belajar
7. Melakukan Tatap Muka Di Depan Kelas
8. Memberikan Tutorial Diklat Jarak Jauh
9. Melakukan Pengamatan Proses Diklat
10. Penanggung Jawab Pengelola Program Diklat
11. Anggota Pengelola Program Diklat
12. Membimbing Peserta Dalam Penulisan Kertas Kerja
13. Membimbing Praktik Kerja Lapangan
14. Menjadi Fasilitator/Moderator/Narasumber Seminar Diklat
15. Memberikan Konsultansi Penyelenggaraan Diklat
16. Melakukan Evaluasi Program Diklat
17. Mengawasi Pelaksanaan Ujian Diklat
18. Memeriksa Jawaban Ujian Diklat
19. Menyusun Karya Tulis/Karya Ilmiah Lingkup Kediklatan
20. Menterjemahkan/Menyadur Buku Dan Bahan-Bahan Lain
21. Membuat Buku Pedoman/Juklak/Juknis
22. Pelaksanaan Orasi Ilmiah
23. Menjadi Tim Penilai Widyaiswara.
Kompetensi Apa yang Diperlukan Oleh Seorang Widyaiswara?
Untuk menunjang uraian tugasnya, setidaknya ada tiga jenis kompetensi yang menjadi prasyarat bagi seorang Widyaiswara yaitu KSA: Knowledge, Skill and Attitude.
1. KOMPETENSI PENGETAHUAN
Menguasai pengetahuan/substansi mata ajar yang diampu
Mampu mengoperasikan OHP, LCD, laptop dan internet
Memahami psikologi belajar orang dewasa
Berwawasan dan peka informasi
Memahami teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran
Kemauan untuk tetap belajar dan gemar membaca
Mengikuti perkembangan/substansi yang diampu
Kemampuan manajerial
Penguasaan substansi, materi sesuai dengan pedoman kediklatan
2. KOMPETENSI KETERAMPILAN
Keterampilan mentransfer pengetahuan
keterampilan mengelola kelas
kemampuan mengoperasikan teknologi informasi, OHP, komputer, internet, laptop, LCD;
3. KOMPETENSI PERILAKU
Kemampuan berpresentasi efektif;
Kemampuan berkomunikasi
Kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris;
Berbusana yang sesuai
Keterampilan memotivasi peserta diklat.
THE MULTI-FUNCTIONED WI
Ada beragam peran yang sebaiknya diemban seorang WI dalam menghandle diklat mencakup:
1. Fasilitator
2. Moderator
3. Motivator dan Inspirator
4. Inovator dan Dinamisator
5. Konsultan
6. Peneliti
Bagaimana Prosedur Menjadi WI?
Mengantongi SK CPNS sebagai Calon Widyaiswara tidak serta merta membuat seseorang positif untuk menjabat sebagai WI. Berbeda dengan guru atau dosen yang semasa CPNS-nya telah bisa menjalankan tugas-tugas mengajar, seorang calon WI harus menempuh Diklat Calon Widyaiswara sekaligus test yang diadakan bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI sebagai dasar untuk direkomendasikan atau tidak direkomendasikan sebagai WI. Pada beberapa tahun belakangan Diklat Cawid berlangsung dalam durasi 40 hari yang diadakan Pusdiklat masing-masing departemen dengan peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.
Sebagai cawid Depag, saya dan teman-teman mengikuti Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Diklat Teknis (Diklat Calon Widyaiswara) pada Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan di Ciputat, kerjasama Departemen Agama dan Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN yang berlangsung pada 28 Oktober s.d 02 Desember 2008 lalu. Ada 30 peserta yang berasal dari Pusdiklat dan 11 Balai Diklat Keagamaan (minus Balai Diklat Bandung) serta 4 peserta tamu dari Departemen Perdagangan. Bayangkan saja, durasi diklatnya menyamai Diklatpim bagi para pejabat eselon III dan IV. Sempat juga diadakan Observasi Lapangan (OL) ke Bandung selama 3 hari.
Sebagai pembekalan bagi para cawid, kurikulum diklat didesain sangat padat yang mencakup:
- Pengantar Pendidikan
- Psikologi Pendidikan
- Belajar dan Pembelajaran
- Pendidikan Orang Dewasa
- Desain Pembelajaran
- Pengembangan Bahan Ajar
- Evaluasi Pendidikan
- Strategi Belajar dan Pembelajaran
- Manajemen Pembelajaran
- Penelitian Tindakan Kelas
- Kemampuan Dasar Mengajar
- Praktik Mengajar
- Teknik Penulisan Karya Ilmiah
- Pengembangan Kurikulum
- Konseling Orang Dewasa
- Pemaparan Spesialisasi
Keenam belas mata diklat yang diwajibkan untuk diikuti para cawid ini amat membantu mereka yang berlatar belakang non-kependidikan, mengingat latar belakang para cawid amat heterogen. Memang rata-rata para cawid sudah S2, meski masih ada yang belum kelar atau malah baru akan kuliah lagi (seperti saya :D). Sempat pernah ada perasaan inferior pada awalnya, termasuk karena saya dan seorang teman yang satu unit kerja di Balai Diklat Keagamaan Palembang adalah peserta paling muda secara usia. Namun hanya satu kata yang menolong kami dari drowned into the bottom of inferiority: bisaaaaaaaaaa!! ;)
Tiap mata diklat selalu diakhiri dengan post test yang disyaratkan minimal 71 dengan rata-rata keseluruhan program minimal 71. Dengan padatnya jadwal diklat, konsentrasi para peserta masih harus dipecah untuk mempersiapkan kelengkapan administratif yang luar biasa banyak sampe bikin senewen, plus persiapan bahan paparan untuk test kompetensi pada dua hari terakhir. Memang terdapat dua tahapan seleksi bagi calon WI, yang mencakup seleksi administrasi (pemberkasan) dan seleksi kompetensi (paparan). Ini dia syarat administratifnya:
- Surat usulan dari Pejabat Pembina Kepegawaian di Instansi ke Kepala LAN.
- Cawid Lulus Diklat Calon Widyaiswara.
- Berijazah serendah-rendahnya Sarjana/D-IV dari PT yang terakreditasi.
- Cawid mengisi Lembar Biodata yang disahkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian di instansinya
- Usia Maksimal 50 tahun pada saat SK Pengangkatan.
- Melampirkan SK Pengangkatan/pemberhentian dalam/dari jabatan terakhir.
- Melengkapi Daftar Riwayat Hidup, DP-3 terbaru, Ijazah/ Sertifikat/kegiatan ilmiah/TOT kewidyaiswaraan.
- Menyusun Rencana Kerja Diklat individu – minimal 500 JP.
- Melampirkan Program Diklat di Unit Diklat satu tahun berjalan.
- Surat Keterangan Pengalaman mengajar di Diklat-diklat PNS.
- Karya Tulis Imiah (KTI) yang pernah dibuat/disusun/diterbitkan.
- Menetapkan minimal 2 Spesialisasi Diklat (satu untuk paparan, yang lainnya sebagai cadangan bila mengulang).
- Melengkapi sebanyak 2 rangkap spesialisasi yang akan dipaparkan, dan 1 rangkap spesialisasi yang tidak dipaparkan yang meliputi: RBPMD/GBPP, RP/SAP, Bahan Ajar/Modul, dan Copy transparansi (OHT).
- Pas Foto terbaru 3 x 4 sebanyak dua buah.
- Melampirkan Daftar Usulan Perolehan Angka Kredit (DUPAK) Calon Widyaiswara beserta bukti fisik.
Item-item yang dicetak tebal adalah syarat yang cukup ‘merepotkan’ dan time-consuming. Para peserta terkondisikan untuk kurang tidur karena bergadang malam-malam untuk menyicil melengkapi semuanya. Untuk menghindari kantuk yang mudah menyerang, biasanya kami pada ngerjain bareng di kelas hingga keramaian membuat suasana tidak begitu bikin stres.
Untuk selanjutnya, jika urusan berkas sudah dinyatakan oke, Cawid bisa mengikuti seleksi kompetensi berupa paparan spesialisasinya dengan unsur penilaian berikut:
- Penguasaan Materi/ Esensi Spesialisasi
- Relevansi Materi dengan Tujuan Pembelajaran
- Sistematika Penyajian
- Penggunaan Metode dan Alat Bantu Pengajaran
- Keterampilan Menjawab Pertanyaan
- Daya Simpatik, Gaya, dan Sikap dalam penyajian
- Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Kualitas Bahan Diklat (RBPMD/GBPP,RP/SAP,Bahan Ajar/Modul, Transparansi/Slides)
- Ketepatan waktu dalam penyajian
- Keterampilan Bahasa Inggris
Sekitar tiga bulan setelah diklat usai, Rekomendasi LAN keluar. Ini berarti populasi WI Depag yang mulanya hanya sekitar 355 orang dari total WI seluruh departemen RI yang berjumlah 7256 orang telah bertambah lagi. Memang yang direkomendasikan untuk menjadi WI tidak 100%, namun merujuk pada mekanisme seleksi cawid Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN sesuai PP 101 th. 2000 dan Peraturan MENPAN No. PER/66/M.PAN/6/2005, jika dinyatakan belum berhasil pada satu kali test, peserta dapat mengulang sekali lagi dengan mengajukan surat pengusulan kembali. Saya kebetulan direkomendasikan untuk diangkat menjadi Widyaiswara Pertama dengan Perolehan Angka Kredit sebanyak 143,55.
Dengan tunjangan yang relatif tinggi dan batas usia pensiun diatas 56 tahun serta kesempatan untuk pengembangan karir secara mandiri membuat banyak PNS yang berminat ‘beralih fungsi’ menjadi WI, diluar rekrutmen cawid dari seleksi CPNS. Bahkan fenomena yang ada sekarang, para pejabat yang akan memasuki usia pensiun banyak yang pindah menjadi WI untuk memperpanjang masa kerja. Terlepas dari itu semua, bisa dikatakan WI merupakan profesi avant garde yang menyediakan banyak tantangan tersendiri. Tidak hanya tantangan seperti yang dikatakan Pak Caca Syahroni –Kepala Sie. Seleksi WI LAN- untuk mengajar orang-orang yang secara usia, pengalaman dan jabatan lebih tinggi dari kita, namun juga tantangan untuk menjaga produktivitas yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugas utama dan penunjang secara mandiri.
Saya ingin mengakhiri info dasar tentang dunia WI ini dengan moral lessons yang diperoleh pada Diklat Cawid silam. Ini ingin saya share karena sangat membekas dan penting untuk memantik api passion dalam diri..
5 Hal untuk Dimiliki Widyaiswara
1. Niat bersih
2. Membina diri untuk memiliki attitude yang baik hingga sikap mentalnya juga bisa ditransfer
3. Bekerja profesional, karena WI adalah pengembangan profesi mandiri. Jadilah WI yg memesona! Jangan jadi WI yang hobi memendekkan jam mengajar dan memanjangkan jam tidur orang..
4. Tidak mudah menyerah, menyelesaikan kesulitan apapun
5. Mengukir prestasi!
(Drs. H. Asmu’i, SH., M. Hum, Kapusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan)
Seorang WI harus menjadi Content-Expert dan Transfer-Expert!
Caca Syahroni, (Ka. Sie. Seleksi WI LAN)
Remember the characteristics of adult learners: autonomous & self-directed, have knowledge & life experiences, goal oriented, relevancy oriented, practical, and need to be shown respect.
(MH. Maliki MA, LAN)
Jadilah WI yg multiskilled, menurut Kaizen those who are multiskilled getting more chances!
(Indrawati, M. TEFL, LAN)
6 Ps: Proper Preparation and Practice Prevent Poor Performance!
(Rivoldi Siringo-ringo, M. Psi, LAN)
Lebih baik menjadi WI yg low profile tapi maju, daripada overconfident tapi jatuh...
(Ramli Haris, koord. WI Depag)
The Mediocre Teacher Tells
The Good Teacher Explains
The Superior Teacher Demonstrates
The Great Teacher Inspires
(Shinta Dame Simanjuntak MA, LAN)