Tampilkan postingan dengan label what we see on TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label what we see on TV. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 17, 2010

Soundtrack of the Month: Bunga Seroja



Secara tidak sengaja aku ketemu sebuah lagu bernuansa Malay yang amat familiar, namun kali ini terdengar berbeda karena dinyanyikan oleh seorang anak laki-laki bernama Verys Yamarno. Bukan nama yang asing yah?

Verys memang mencuat namanya setelah terpilih memerankan tokoh Mahar dalam film Laskar Pelagi. Berbeda dengan versi novelnya dimana tokoh Lintang yang paling banyak menyedot perhatian pembaca, maka film Laskar Pelangi menampilkan tokoh Mahar dengan amat memikat.

Mendadak lagu ini jadi soundtrack yang kudengarkan berulang-ulang dari MP3 saat mnghadapi laptop, walaupun sebenarnya sudah basi sekali karena huru-hara LP sudah berlalu. Bahkan sekarang sekuelnya: Sang Pemimpipun sudah berlalu dari perbincangan. No problemo. Let me contemplate with this song, accompanied by Verys 

This is: Bunga seroja

Mari menyusun
seroja bunga seroja..

Hiasan sanggul remaja.. puteri remaja

Rupa yg elok
Dimanja, jangan dimanja
Pujalah ia oh saja
Sekedar saja..


Mengapa kau bermenung..
oh adek berhati bingung

Mengapa kau bermenung
Oh adek berhati bingung..

Janganlah engkau percaya dengan asmara..
Janganlah engkau percaya dengan asmara..


Sekarang bukan bermenung jaman bermenung..
Sekarang bukan bermenung jaman bermenung..

Mari bersama. Oh adek memetik bunga..

Moral Lesson: jika sedang stress, mari menyusun bunga seroja! Lumayan buat dijadiin bando :D

Kamis, Agustus 20, 2009

Farah Quinn: Merobohkan Stigma bahwa Memasak bukan Aktivitas Wanita Modern


Strategi TransTV untuk menampilkan Farah Quinn sebagai chef pada acara cooking guide berjudul Ala Chef pada Sabtu dan Minggu pagi tampaknya memang brilian. Farah menjadi icon penting yang membuat acara berslogan delicious and sexy food ini melesat diantara acara kuliner serupa di channel TV lain. Tidak hanya terlihat atraktif [dengan wajah rupawan dan kulit sawo matangnya yang eksotis], Farah juga amat gesit dan unik dengan gayanya yang orisinil. Logat bahasanya yang kebule-bulean mudah akrab di telinga pemirsanya dengan kata-katanya yang khas, “Woalaa, this is it! Pempek bundar ala Chef Farah Quinn!”. Siapa yang tidak ingat dengan gaya khasnya saat mengangkat hasil karyanya setelah acara masak memasak kelar?

Tapi yang lebih penting, Farah Quinn yang ternyata asli Palembang ini telah menjadi icon baru di dunia kuliner Indonesia, yang selama ini didominasi oleh genre laki-laki, dan kalaupun beberapa diantaranya wanita, amat jarang yang tipikal Farah: dengan gayanya yang gaul, fashionable, dan terbilang masih amat muda [doi kelahiran 1980]. Farah yang bersuamikan orang asing ini memilih untuk menekuni kuliner sebagai latar belakang pendidikan, lalu menerjuni dunia masak memasak sebagai profesinya [Farah adalah chef dengan spesialisasi pastry, pernah kuliah di Pittsburgh Culinary Institute dan menjadi ahli pastry di Arizona Biltmore Resort]. Padahal, kalau mau jujur, banyak sekali para wanita yang mengkategorikan dirinya ‘modern’ -apalagi dari kalangan wanita karir dengan keadaan finansial yang baik- yang mau bercucuran air mata karena mengupas bawang merah, membersihkan ikan mentah yang bau amis dan kulitnya tersiram minyak saat menggoreng kerupuk di dapur.

Aku adalah satu diantara banyak wanita yang tidak menaruh minat terlalu banyak pada peran domestik wanita dalam rumahtangga: amat jarang memasak sendiri, dan urusan mencuci baju serta menyetrikanya juga didelegasikan dengan hormat pada pembantu. Bahkan saat weekend dimana tidak ngantor sekalipun, aku lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca banyak buku selama berjam-jam, kalau pas sedang tidak jalan-jalan ke mol, shopping, atau sekedar nonton TV di kamar. Dan jika sedang ingin makan enak, solusinya cuma satu: berwisata kuliner keluar, gampang kan? Gitu aja kok repot. [Untungnya sejauh ini suami belum complain terlalu kenceng. atw pada saat complain pas kebetulan aku lagi pake headset :D].

Kengapa ga memasak sendiri? Selain memang ga suka dan tentu ga bisa [karena ga belajar], jujur aku masih punya paradigma yang less favorable tentang aktivitas domestik para istri. Aku sering menganggap aktivitas memasak, mencuci, dan menyetrika itu selain tidak menarik juga kurang penting, yang bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk pembantu rumah tangga. I love being the thinker, not the doer, begitu justifikasi inside my mind. Karenanya aku lebih suka aktivitas-aktivitas yang menurutku butuh pemikiran, bukan butuh tenaga yang membuat kita berkeringat-keringat saat melakukannya. Okelah tentu kadang-kadang aku melakukannya, tapi secara serius dan total melakukannya memang belum pernah terpikirkan. Nungguin hidayah kali ya :D. But at least, aku sudah mengkliping buku resep masakan dari tabloid-tabloid lho, upaya yang lumayan kan? Hahaha.

Sampai kemudian Mrs. Farah Quinn dengan acara TVnya itu merombak stigma bahwa memasak bukanlah bagian penting dari aktivitas wanita modern saat ini. Melihatnya bersemangat meracik bahan-bahan yang bahkan aku tidak tahu namanya, kreativitasnya membuat aneka variasi masakan, dan kebiasaannya mencicipi hasil karyanya dengan orang-orang yang ditemuinya, tak pelak membuatku iri hati. Betapa beruntungnya suaminya, pikirku. She’s definitely a type of modern woman with great ability to grow his husband’s love by her delicious cuisine! Aku pernah dengar bahwa salah satu strategi melumpuhkan hati suami adalah melalui perutnya. Kubayangkan betapa asyiknya menjadi seorang wanita yang tak hanya pintar otaknya, pintar berdandan, pintar merayu [hehehe], tapi juga pintar memasak! Bukankah itu menyempurnakan modal seorang wanita?

Lagipula tidak benar juga aktivitas memasak tidak melibatkan pemikiran, justru hanya the thinker yang bisa berinovasi untuk memvariasikan masakan-masakannya hingga selalu ada kreasi baru dan pasti mak nyoss. Every chef is absolutely a thinker! Belum lagi pahala yang bercucuran dibalik tiap tetes keringat saat acara masak-memasak itu, kayaknya lumayan buat tabungan amal soleh istri.

Seperti kata Farah, “Cooking bukan hanya buat si mbok dan dapur juga bukan pekerjaan yang tidak seksi...”. She’s absolutely true for this! Yeah, mudah-mudahan, kalaupun tidak sekarang, akan tiba masanya dimana aku akan berkata, “Woalaa.. this is it! Pempek lenjer ala Chef Agustina Djihadi!” sambil menyorongkan nampan besar berisi pempek lenjer yang memang aku bikin sendiri, bukan hasil beli dari warung Pempek Pak Raden :D

Selasa, April 28, 2009

Menjadi Muslimah yang Berdaya



Tampaknya ada resep gampang untuk membuat tekanan darah jadi tinggi dan kepala mendadak cekot-cekot. Tiap hari pukul 18.00 sampai 19.00, sempatkan sejenak untuk menonton dengan manis sinetron Muslimah di Indosiar. Jika bisa bertahan lebih dari 5 scene saja tanpa rasa eneg, berarti HEBAT! Lanjutkan dengan menyaksikan Hareem –sekarang berjudul Inayah- pada pukul 20.00 hingga 21.00 pada channel yang sama. Luar biasa memang sinetron-sinetron kita itu.

Banyak sekali yang mencurigai ada grand design mendiskreditkan Islam oleh dua tayangan tersebut. Sebutlah Muslimah: sudahlah judulnya membawa-bawa Islam, dengan penokohan menggunakan atribut-atribut keislaman secara jelas, namun isinya hanyalah bermuatan kesirikan, kekerasan yang amat vulgar, dan ketololan-ketololan yang tak masuk akal. Pendeknya tayangan ini amat meremehkan intelektualitas karena semata-mata berisi parade kebodohan dan kenaifan yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam, bahkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Tayangan ini bukan hanya tidak islami tapi sudah tidak manusiawi, bukan hanya tidak mendidik tapi sudah menyesatkan, bukan hanya tidak bermutu tapi memang amat kacangan. Bikin emosi panas aja deh kalo nekat mantengin sinetron-sinetron ini.


Sebenarnya yang paling bikin emosional itu terutama bukan karena kekejaman tokoh-tokoh antagonisnya, melainkan kebodohan sang tokoh utama (yang namanya Muslimah) dalam menerima kedzoliman demi kedzoliman yaitu dengan caranya yang sungguh mantap: menangis tersedu-sedan dengan wajah tidak berdaya, yang makin menegaskan penempatannya sebagai korban dari segala situasi buruk yang memojokkannya. Cape deehh.. Saya paling sensitif dengan pencitraan wanita Islam yang dungu, dangkal dan terdzolimi, yang cuma jadi bulan-bulanan dan warga negara kelas dua. Padahal para sahabiyah 14 abad yang lalu terkenal dengan reputasi hebatnya sebagai wanita-wanita kuat yang berfastabiqul khoirot, tidak hanya menjadi istri dan ummahat yang mencetak generasi unggul, tapi juga merupakan bagian dari masyarakat yang punya peran signifikan terhadap kemaslahatan umat. Pendeknya sosok muslimah yang sebenarnya adalah representasi citra wanita yang berdaya (powerful), bukannya lemah dan tertindas. Ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari terinternalisasikannya nilai-nilai spiritual yang diyakininya.

Maka wajar saja jika banyak yang gregetan dengan tayangan Muslimah itu dan menuntut KPI untuk bertindak tegas. Termasuk sinetron Hareem yang juga merepresentasikan kehidupan orang Islam yang menyeramkan, dan menurut MUI berindikasi melecehkan agama. Untungnya, pada Senin (31/3) lalu KPI telah menetapkan enam sinetron bermasalah untuk diperingati, yaitu: Suami-suami Takut Istri, Muslimah, Abdel dan Temon, Alisa, Tawa Sutra, Monalisa, dan Hareem. Sinetron-sinetron ini dinyatakan telah melanggar Undang-undang No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Saya pikir tayangan-tayangan bermasalah itu akan dihentikan, tapi ternyata nggak, backingnya kuat kali yaaa. Cuma bedanya, kini Hareem muncul dalam versi baru: menanggalkan atribut-atribut keislamannya hingga tampak seperti sinetron drama biasa tanpa mengatasnamakan Islam. Romo tampil tidak lagi dengan gamis putihnya, istri-istrinyapun pada melepaskan jilbab, dan anak laki-lakinyapun tidak lagi mengenakan peci putih seperti biasanya. Terkesan agak maksa memang, tapi rupanya Soraya Intercine Film lebih bela-belain skenarionya tetap jalan dan mengadaptasi nuansa keislamannya saja biar MUI nggak ribut-ribut.

Fenomena tayangan-tayangan payah ini juga ternyata disoroti oleh Yayasan Sains dan Estetika (SET), Yayasan Tifa, dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) yang mengadakan penelitian bertema "Menuju Televisi Ramah Lingkungan" untuk menjaring penilaian kelas berpendidikan tentang kualitas program televisi. Dari 220 responden yang diteliti, sebagian besar adalah sarjana. Hasil penelitiannya menghasilkan 5 program terbaik: Kick Andy (22,3 persen), Seputar Indonesia (3,6 persen), Liputan 6 Petang (3,2 persen), Jejak Petualang (3,2 persen), dan Jalan Sesama (2,7 persen). Bagaimana dengan ‘penghargaan’ untuk program-program terburuk? Seperti bisa ditebak, Sinetron Muslimah adalah juaranya, disusul Sitkom Suami-suami Takut Istri, FTV Drama Indosiar, Bukan Empat Mata, Dangdut Mania Dadakan IV, dan Sinetron Cinta Fitri 3. sedangkan program terbaik di tiap stasiun televise adalah: Trans 7: Bocah Petualang (20%), TransTV: Bioskop TransTV (17%), MetroTV: Kick Andy (36%), ANTV: Tawa Sutra (19%), TVOne: Apa Kabar Indonesia Malam (21%), TPI: Lintas 5 (11%), Global TV: MTV Ampuh (19%), SCTV: Liputan 6 Petang (45%), RCTI: Seputar Indonesia (49%), Indosiar: Mamah dan Aa (15%), TVRI: Dunia Dalam Berita (26%).

Saya mengkuatirkan efek tayangan-tayangan ‘bodoh’ dan ‘membodoh-bodohi’ seperti sinetron Muslimah bagi masyarakat awam. Bisa jadi ini dianggap representasi dari nilai-nilai Islam hingga meningkatkan Islamophobia dan misinterpretasi banyak orang terhadap Islam yang hakiki. Bisa jadi aturan-aturan Islam dianggap tidak memberikan ruang yang kondusif bagi wanita hingga menempatkannya sebagai pihak yang termarjinalkan ditengah-tengah masyarakat, padahal andai kita memahami bagaimana Islam memuliakan wanita, mungkin laki-laki akan banyak yang iri hati karena keistimewaan yang dimiliki wanita.

Mari kita lihat bagaimana para Muslimah yang sebenarnya mengukir sejarah!

Asy-Syifa’ binti Al Harits, disebut sebagai seorang guru (ulama) wanita pertama dalam Islam. Ia mengajar membaca dan menulis, dan ahli ruqyah (pengobatan), bahkan Khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapatnya tentang urusan agama dan dunia.

Ummu Hani’ binti Abi Thalib Al Hasyimiyyah, tersohor sebagai penunggang unta yang hebat, periwayat dan pengajar hadits hingga akhir hidupnya. Namun karena baiknya perlakuannya terhadap keluarganya, Rasulullah SAW memujinya sebagai perempuan penyayang keluarga.

Hafsah binti Umar bin Khattab adalah sosok pemberani dan berkepribadian kuat serta pandai membaca dan menulis –yang ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh perempuan. Hafsah adalah orang yang pertamakali diperintahkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq untuk mengumpulkan mushaf asli Alquran.

Nama Khadijah binti Khuwailid takkan mungkin untuk tidak disebut. Sebagai pebisnis kaya raya, wanita terbaik di dunia ini mendukung perjuangan Rasulullah SAW dengan sepenuh jiwa raganya. Dialah sosok wanita sejati yang menenangkan Rasul di masa-masa sulitnya.

Wanita hebat yang tangguh juga didapati pada sosok Ummu ‘Umarah, yang bersama suami dan kedua puteranya ikut dalam perang Uhud yang berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Ummu ‘Umarah justru mendekati Rasulullah bermaksud melindunginya dengan menggunakan pedang. Namun ia justru terkena sabetan pedang berkali-kali oleh musuh hingga lukanya baru sembuh setelah setahun. Pada masa Khalifah Abu Bakar Siddiq, Ummu Umarah juga ikut memerang Musailamah Al-Kadzhab si nabi palsu, hingga Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan kehilangan puteranya.

Tentu saja figur wanita ideal sepanjang masa ada pada Aisyah binti Abu Bakar Ash Siddiq. Ia telah membuktikan bahwa seorang wanita lebih pintar dari kaum laki-laki dalam urusan politik dan perang. Berkumpullah pada diri beliau antara ilmu dan keutamaan yang mana sejarah menjadikan beliau obat yang sangat dibutuhkan sepanjang masa. Dalam kehidupan rumah tangganya ‘Aisyah menjadi guru bagi setiap wanita di seluruh alam sepanjang sejarah. Beliau merupakan istri terbaik yang memperhatikan ilmu dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sehingga beliau sampai pada puncak ilmu yang menjadikan beliau guru bagi kaum lali-laki. Dan mereka menjadikan beliau rujukan dalam hal hadits, sunnah dan fiqih. Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu ‘Aisyah lebih utama”.


Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata, “Sungguh aku telah bertemu dengan ‘Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al-Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, syar’I, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu kesehatan (kedokteran), maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi… kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” maka beliau menjawab, “Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya, tatkala ada orang sakit dia menyebutkan gejala-gejalanya, dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.”

Sungguh telah banyak terdapat teladan tentang sosok muslimah yang hakiki, yang bermuara pada keniscayaan bagi tiap dari mereka untuk menjadi manusia yang berdaya, stand on their own feet, namun tetap menjalankan peran kewanitaan mereka sebagaimana seharusnya karena pada tiap laki-laki hebat terdapat seeorang wanita yang hebat di belakangnya. So, menjadi sosok hebat dalam tuntunan Islam adalah satu-satunya pilihan untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan umat di tengah-tengah hiruk-pikuk dunia saat ini. Dan tentu, sosok Muslimah yang diperankan Titi Kamal, atau sosok Inayah yang diperankan Shandy Aulia dalam sinetron-sinetron ‘Islami’ tersebut, sama sekali tidak masuk hitungan!

Senin, April 13, 2009

Bagaimana Cantik Didefenisikan?


Jika pertanyaan “Apa sih cantik menurut kita?”, the frequently given answers adalah: sosok perempuan tinggi langsing, berkulit putih cemerlang, dengan rambut panjang lurus yang tergerai indah, dan wajah mulus tanpa cela bak pualam. Terkadang kata ‘cantik’ diidentikkan pula dengan istilah ‘seksi’, yang berarti harus memiliki dada dan bokong besar dan kencang hingga tampak ‘sempurna’ sebagai seorang perempuan. Mau diaminkan atau disangkal, namun inilah stereotype yang melekat kuat pada society kita tentang ‘value’ seorang perempuan untuk bisa masuk pada kategori cantik. Jika tidak percaya, lihat saja beauty peagant atau kontes-kontes kecantikan yang seringkali ditayangkan secara on air di layar kaca. Dalam industri televisi, merekalah representasi dari sosok wanita cantik, dan sampai lebaran monyet juga kita nggak bakal nemu ada finalis berbadan pendek atau gendut disana. Kenapa? Ya karena itu tidak cantik!

Saat ini populasi penduduk dunia diestimasi sekitar 6,5 miliar orang (analisis Pusat Program Internasional di Biro Sensus AS), dan konon perbandingan perempuan dan laki-lakinya mencapai 10:1. Pertanyaannya adalah, dengan jumlah sebanyak itu lantas apakah untuk disebut cantik mereka harus tampil ‘seragam’? Apakah wanita-wanita Afrika yang berkulit cokelat harus ramai-ramai memutihkan kulit, wanita-wanita Amerika yang pirang dan keriting harus mengecatnya jadi hitam dan melakukan rebonding agar tampak lebih lurus, dan wanita-wanita Asia yang berbadan mungil harus melakukan operasi pembesaran payudara dan bokong? Belum lagi buat mereka yang memiliki hidung kurang mancung, badan kurang tinggi dan kelebihan berat badan, daftar ‘dosa’ mereka sebagai perempuan tampaknya menjadi amat panjang dan ini seolah akan menjadi sebuah legitimasi penilaian bahwa mereka tergolong BUKAN PEREMPUAN CANTIK.

Mungkin kita berpikir, stigmatisasi inilah yang membuat industri kecantikan termasuk produk kosmetika, salon dan pusat kecantikan hingga pusat kebugaran menjadi laku keras dan kian menjadi bisnis yang nggak ada matinya, dan ini berbanding lurus dengan meningkatnya awareness masyarakat terhadap pentingnya penampilan sebagai bagian dari image building. Namun sebenarnya, hukum yang berlaku adalah sebaliknya! Industri kapitalis dunia fashion dan kecantikanlah yang membentuk pencitraan tentang kecantikan sedemikian rupa sebagaimana yang diyakini masyarakat kita sekarang, dan industri media adalah backing yang mempromosikannya. Pendefenisian masyarakat tentang makna kecantikan itu sendiri bukan terbentuk secara serta merta, melainkan hasil dari bombardir media dengan caranya yang sangat cerdas, hingga jarang sekali kita menyadari bahwa kita tengah di brainwashed secara amat halus untuk melihat hal-hal kasat mata dan artifisial sebagai prioritas, dan pada akhirnya berpotensi untuk mencetak kita menjadi bangsa hedon yang amat mementingkan kulit– material – duniawi, dan dangkal memahami substansi – immaterial- ukhrawi.

Imbas mudahnya adalah: jutaan wanita mati-matian mengubah penampilan fisiknya agar bisa ‘menerima’ diri mereka sendiri sekaligus untuk merasa lebih diterima oleh lingkungan. Ini juga yang menjadi variabel penting yang membuat mereka lebih merasa berbahagia dengan hidupnya. Banyak sekali wanita ‘kurang bahagia’ yang lantas menderita bulimia dan anoreksia maupun eating disorder lainnya, atau untung bagi mereka yang kaya raya bisa melakukan facelift atau bedah plastik lainnya sesuai kebutuhan, namun bagi yang punya budget pas-pasan apa boleh buat: minta suntik ‘dokter-dokteran’ yang bisa menyulap penampilan fisik mereka hingga lebih wow meskipun untuk itu banyak yang akhirnya meregang nyawa.

Saya tidak mengatakan bahwa mengupgrade penampilan adalah hal buruk. Justru sebaliknya, ini adalah wujud kepedulian kita terhadap diri kita sendiri, hingga kita mau melakukan upaya terbaik untuk diri kita. Saya juga tidak mengklaim bahwa mereka yang mengubah penampilan fisik adalah mereka yang pasti kurang bersyukur. Justru mungkin itulah cara mereka mensyukuri anugerah fisik yang dikaruniakan: dengan mengoreksinya hingga makin tampak sempurna. Namun setidaknya ada dua hal yang kemudian menjadi isu memprihatinkan.

Pertama adalah bagaimana kita para wanita ini meletakkan urgensi kecantikan secara tidak proporsional, hingga mengabaikan aspek-aspek lain yang melengkapi value kita sebagai manusia. C’moon, ada banyak sekali kualitas kita sebagai manusia selain dari semata-mata menjadi cantik rupawan. Mengapa tidak menyeimbangkannya hingga kita tumbuh berkembang menjadi manusia yang paripurna? Menjadi wanita cantik yang tidak cerdas adalah sebuah kerugian karena bisa jadi ‘korban’ banyak kepentingan, dan menjadi wanita cantik yang tidak berkarakter adalah sebuah godaan menggiurkan yang lantas mudah untuk menjadi membosankan, seperti halnya menjadi wanita cantik tanpa manner akan tampak mengesalkan. Bagaimana dengan menjadi wanita cantik yang minus kesadaran beragama? Saya cuma bisa bilang: berbahaya.

Jika kita mau menginvestasikan begitu banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mengupgrade aspek kecantikan lahiriah, mengapa tidak melakukan hal yang sama untuk mengupgrade kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional (termasuk didalamnya kecerdasan interpersonal), kecerdasan spiritual, dan banyak kecakapan hidup (life skills) yang menunjang value kita sebagai manusia? Saya sih percaya, jika kita sibuk menguprade seluruh aspek ini secara kontinyu, kita ga akan sempat untuk mengutuki kekurangan fisik hingga membuat kita rela untuk jadi seorang anoreksia! Ada terlalu banyak agenda yang harus kita selesaikan, terlalu banyak keterampilan yang ingin kita pelajari, dan terlalu banyak target yang ingin kita capai; mengapa menghabiskan banyak waktu dengan sebagian kecil dari value kita itu? Menjadi cantik saja tidak cukup, kita juga perlu untuk punya attitude, strong character and high determination, menjadi kompeten pada bidang kita sekaligus broad-minded alias berwawasan luas dan berpikiran terbuka hingga siap untuk membuat kemajuan apapun. Untuk mencapai kualifikasi ini saja, ada banyak hal yang harus kita pikirkan dan banyak action yang harus kita lakukan. Be balanced! Bukankah menyenangkan untuk menjadi perempuan yang tidak hanya hobi ke salon dan spa tapi juga mengalokasikan waktu rutin ke toko buku dan seminar-seminar pengembangan diri? Bukankah menyenangkan untuk menjadi perempuan yang tidak hanya lancar bicara tentang gosip infotainment dan kosmetika yang bebas mercury dan hidroquinon tapi juga nyambung berbicara tentang pemilu, isu-isu sosial dan lingkungan hidup?

Keprihatinan yang kedua adalah, bagaimana isu kecantikan ini telah mengambil banyak sekali tempat di hati kita, hingga kita menjadikannya sebuah variabel penting bagi kebahagiaan hidup kita secara keeseluruhan. Bukankah sering kita tergerogoti virus minder terkait dengan kekurangan fisik? Pun kita seringkali tergoda untuk merasa less happy karena kebetulan wajah sedang jerawatan, berat badan naik satu kilo (HELOOOWW, I MEAN: SATU KILO GITU LHO), atau kulit kering karena kelamaan di ruang ber-AC sementara lupa pake body lotion. Hal-hal seperti ini akan membuat kita terserang bad mood dan terkadang yang lebih nggak make sense lagi adalah ini mempengaruhi ‘stabilitas’ hidup kita sepanjang hari. Bukankah ada istilah ‘Bad Hair Day’ –yang merujuk pada keadaan hari yang buruk karena keadaan rambut yang nggak oke –mungkin karena lupa keramas, nggak pake conditioner, atau karena pas kebetulan beraktivitasan di tengah terik matahari? Kita mendadak merasa punya alasan untuk merasa tidak hepi menjalankan hari dan rutinitas karena ‘kecacatan’ pada penampilan, padahal segala sesuatu toh sebenarnya kembali pada persepsi.

It’s undoubtly okay to be beautiful –malah harus menurutku. But, there’s nothing wrong for being less beautiful, even look horrible for some time. Why not? Kenapa kita tidak boleh sesekali tampak kacau, messy, bahkan mengerikan, namun tetap merasa hepi menjadi diri kita sendiri? Kenapa harus merasa inferior saat berhadapan dengan para finalis kontes ratu kecantikan yang membuat kita tampak seperti liliput buruk rupa? Bukankah: The way we value ourselves set standards for others? Jika kita melihat diri kita penuh cacat dan kekurangan, bagaimana mungkin orang bisa melihat aura penuh pesona yang memancar dari dalam diri kita?

Menurutku, orang yang yakin pada dirinya sendiri tampak sangat memukau, baik itu laki-laki maupun perempuan. Sementara orang yang tampak selalu punya banyak masalah, mempersoalkan hal remeh temeh, selalu mempunyai banyak stok isu untuk dikeluhkan, entah itu rupawan bak Penelope Cruz dan Brad Pitt sekalipun, tetap saja pada akhirnya akan tampak seperti sosok Dementor pada novel Harry Potter yang bisa ‘menghisap darah’ orang alias membuat bete sepanjangan.

So, I really ponder that, beautiful is all about being proportional viewing all and being happy unconditionally. Jikapun itu diikuti dengan kesempurnaan fisik, anggaplah itu bonus kita sebagai perempuan. Jikapun tidak, tetaplah proud of being yourself! Alasannya sederhana: di dunia ini, yang seperti kita hanya satu. Tidak ada seorangpun yang serupa dengan kita. Kenapa lantas merepotkan diri dengan ingin tampak seperti orang lain? Cantiklah sebagai diri kita, dan be happy celebrating the priceless-you!