Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 07, 2010

Jangan Cemen, Ah!



Jika kita amati sekeliling kita, ada hal yang lucu untuk dipikirkan. Tampaknya ada orang-orang yang tampak selalu punya banyak masalah, dan ada yang tampak selalu tidak punya masalah –happy go lucky dengan hidupnya yang sempurna. The question is: WAS IT REAL?

Benarkah kemalangan selalu menyerbu sebagian orang saja, dan yang lain senantiasa dihujani keberuntungan –persis kaya cerita Donal Bebek versus Si Untung?

Rhonda Byrne bilang: human attracts what they think of. Napoleon Hill terkenal dengan pernyataannya you are what you think you are. Inti dari semua nasihat pengembangan diri yang kita baca sejak SMP bisa jadi cuma 1: MIND REALLY MATTERS! Pikiranlah yang mengarahkan action kita, dan pada akhirnya menentukan akan menjadi apa kita.

Lantas pikiran macam apa yang kondusif untuk kita pelihara bagi kemaslahatan diri kita ini? Hill jelas mengatakannya: positive thinking, dan David Schwarts menyebutnya: big thinking. Whatever lah, yang jelas cara berpikir dengan higher perspective memang telah menjadi tuntutan –kecuali kita mau tergolong kedalam manusia-manusia penuh keluhan yang isi pembicaraannya tiap hari hanya hal-hal buruk, suram, bernada frustrasi dan menularkan mood jelek pada sekelilingnya [a.k.a Dementor].

Pada akhirnya kita lihat bahwa toh tiap orang punya masalah dalam hidupnya. Bukankah ini emang cara Tuhan mendidik kita si kaum pemalas ini untuk mau sedikit mikir? Yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang bukanlah hoki, namun cara mereka menyikapi masalah, kesulitan, or whatsoever yang merintangi langkah mereka.

Don’t get me wrong, Buddies. Akupun sering merasa berada di titik nadir, frustrasi dan merasa gloomy seolah dalam setahun kedepan hanya akan ada musim hujan tanpa matahari sama sekali. Terkadang omongan negatif orangpun bisa membuat ngedrop hingga malas berbuat apa-apa. Banyak hal internal yang juga bisa menjadi pemicu rasa tidak puas dan depresi pada diri sendiri. Kadang-kadang, merasa tidak produktif, tidak capable, tidak suka dengan apa yang harus dilakukan, merasa banyak yang tidak beres, tidak diperlakukan selayaknya oleh orang lain, merasa tidak diapresiasi, dengan sendirinya menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri yang bisa jadi efek bola salju yang terus menggelinding dan membesar –bila tidak buru-buru dinetralisir sebisanya.

Wokelah kalo begitu. Untuk mengecas energi kita yang kadang-kadang low, malah kritis dan mati suri, kita lihat saja bagaimana golongan pemenang menghadapi masalah. Mudah-mudahan cukup untuk membuat kita nggak cemen dengan masalah-masalah yang [pasti] akan selalu ada dalam hidup kita yang [nggak selalu] cihui ini.

RACUN 1: DIKRITIK. Ah, anggap aja KRITIK sebagai KRIPIK. Renyah, enak, mengandung karbohidrat yg baik buat masa pertumbuhan :D

• Albert Einstein, -yg disebut orang that damn brilliant human ever created- ternyata pernah dikatain: bolot, tidak suka bergaul, dan senantiasa hanyut dalam khayalan bodohnya.

• Guru Thomas Edison pernah mengatakan bahwa Thomas terlalu bodoh untuk belajar sesuatu. [Lo tau dia penemu atas seribu penemuan penting]

• Guru Beethoven mengomentari Beethoven: “What a hopeless composer!”. Yeah, setidaknya suami elo ga pernah bilang elo hopeless wife kan? Ihihihi..

• Charles Darwin dianggap oleh semua gurunya (termasuk bokapnya sendiri ) sebagai seorang budak biasa dan mempunyai tingkat kecerdasan dibawah normal.

• Walt Disney pernah di pecat oleh seorang redaktur surat kabar karena kekurangan ide.

• Marconi mengajukan anggaran dana sebesar US$ 30.000 untuk membuat sistem pengiriman pesan tanpa kabel, teman - temannya menyarankan: segeralah masuk ke rumah sakit jiwa
terdekat!!

• Ortunya Erico Caruso, seorang penyanyi opera terkenal pernah mengatakan bahwa dia sebenarnya ga mempunyai suara nyaring dan ga bisa bernyanyi.

• Pendiri Federal Express pernah di beritahu bahwa idenya tidak masuk akal; dan diberi nilai merah (tidak lulus) oleh profesor di universitasnya. Tiga puluh tahun kemudian, Federal Express menjadi sebuah perusahaan ekspedisi ekspres yang terbesar di dunia dengan 128.000 orang karyawan dan mempunyai modal lebih dari US$7 milyar. [moral lesson: dont always trust your professor :D]

• Semasa Sylvester Stallone menjalani ujian di Universitas Dexel, dia di beritahu bahwa peluang masa depannya hanyalah sebagai seorang tukang reparasi elevator. Dengan demikian ayahnya yang
sering memukul dan mengatakan bahwa dia adalah seorang anak yang tak bisa di harapkan. Bayangin kalo Sly percaya dan ngelamar jadi tukang reparasi elevator beneran, e do do eee..


RACUN 2: GAGAL. Ternyata orang-orang besar semuanya pernah gagal. We’re not the only one who fail. Masalahnya cuma 1: setelah gagal, SO WHAT?

• Sebagai seorang siswa, Aristotle Onassis merupakan si tolol nomor satu dan biang kerok, sehingga pernah di keluarkan dari beberapa sekolah. Akhirnya dia gagal dalam ujian dan tidak punya
ijazah walau diploma sekalipun. Onasiss getooo, lo tau dia kemudian jadi org paling tajir gilaaaaa

• Winston Churchill aja pernah ga naik kelas. Jadi kalo lo sekedar ga lulus test wawancara kerja, cukup bilang: “Setidaknya gw ga pernah tinggal kelas kaya Winston Churcil” :D

• Jangan anggap Napoleon Hill selalu sukses. Doi mengalami 7 kali kegagalan besar sepanjang hidupnya sebelum menulis buku ''Think and Grow Rich'' yang keren banget itu.

• Woody Allen, seorang penulis, editor, dan penerbit yang telah mendapatkan anugerah Academy Award pernah gagal dalam ujian bahasa Inggris dan gagal membuat film di universitas New York.

• Ide mesin Xerox pernah ditolak oleh 20 perusahaan dalam 7 tahun sebelum akhirnya diterima.

• Malcom Forbes, mantan Editor Eksekutif Majalah Forbes pernah gagal menjadi staf surat kabar kampus semasa dia menjadi mahasiswa.

• Tau raja bisnis Henry Ford kan say? Doi pernah bangkrut, not only once, but FIVE TIMES!

• Siapa yang ga pernah baca seri Chicken Soup for the Soul? Ternyata e ternyata, naskahnya sebelumnya udah ditolak 33 penerbit karena para editor beranggapan bahwa kumpulan cerita tersebut tidak laku di jual. Eh, gataunya menjelang 1998, seri Chicken Soup ini terjual lebih dari 30 juta diseluruh dunia dan diterbitkan dalam 30 bahasa.
Btw, novel Gone with the Wind yang memecahkan rekor dalam sejarah penerbitan dimana 50.000 buku telah terjual dalam tempo satu hari, udah diterjemahkan kedalam 30 bahasa dan kemudian menjadi film paling populer yang pernah di hasilkan, ternyata juga sebelumnya ditolak oleh penerbit Hollywood. [pelajaran moral: don’t trust editor, mereka banyak yang sotoy].

• Ketika Billi menawarkan naskah "Dare To Fail" kepada sebuah penerbit pada tahun 1996, ternyata di tolak dengan alasan berikut: "Kamu bukan Dale Carnegie atau Norman Vincent Peale. Siapa jugaaaa yang mau baca elo punya buku?". Sejak saat itu "Dare toFile" telah diterjemahkan dalam 7 bahasa. Kata Billi: ''Ditolak tidak berarti sudah kiamat. Penolakan hanyalah soal beda pendapat.'' [lagi-lagi, don’t trust book publishers, they could be the most sotoy persons ever]


RACUN 3: GA ADA MODAL. Sukses ternyata bukan masalah modal duit or whatsoever. Banyak yang mengawali dari NOL, dan JADI!

• Abraham Lincoln –presiden USA godekan yang terkenal itu- ikut perang Blackhawk dengan pangkat kapten. Setelah perang selesai, dia di turunkan menjadi prajurit biasa.

• Ketika Sidney Poitier meninggalkan Bahamas untuk merantau ke New York, dia cuma punya US$3 dalam sakunya; dan dia bukanlah seorang yang pandai membaca. Dia pernah tinggal di atas loteng tanpa atap dan menopang hidupnya dengan mencuci piring.

• Ray Charles, Jose Feliciano, dan Stevie Wonder semuanya sama dalam satu hal: mereka buta. Oya, tau dong Hellen Keller yang buta tuli dan bisu. Harusnya kita malu karena tidak buta tidak tuli tidak bisu tapi ga bisa melakukan hal yang dilakukan Hellen. Doi belajar dengan susah payah dengan cara gurunya menuliskan kata-kata di tangannya, sedangkan kita yang bisa baca buku, nonton tipi dan denger kuliah tanpa kesulitan masih aja punya prestasi mediocre, kadang2 payah ;)


See. Masalahnya bukan terletak pada masalah, namun pada how to deal with them. Racun pasti selalu ada, thus, we only need to prepare antibiotik :D.
Cheers ahhh.

Saat Teknologi itu Membuat Kita Kehilangan Esensi

I just wonder, how great the impacts of gadgets in such modern life :)

Dalam sebuah rapat penting dgn pejabat eselon II di kantor, hampir tiap lima menit dering ringtone bergantian memecah kesunyian. Sepertinya ga ada yg berminat mengaktifkan modus getar bahkan untuk rapat yang perlu suasana tenang. Ada sebuah penelitian menyebutkan, rapat merupakan pemborosan waktu tertinggi di lingkungan kantor. Jika ditambah dengan embel-embel rapat yang tidak efektif karena terlalu banyak disturbance, bisa dibayangkan betapa lebih sia-sianya.

Saat hanging out dengan seorang kawan lama, kami ngobrol dengan amat seru karena memang sudah lama tak bertemu. Namun ‘reuni’ yang fun itu ternyata berulangkali mesti diinterupsi juga dengan masing-masing ber-SMS-an dengan entah siapa saja yang kadang menghabiskan banyak waktu lengang seketika.

Sekelompok remaja tanggung tengah makan bareng di sebuah cafe. Namun keseruan mereka hanya pada sepuluh menit pertama, lalu mereka malah tampak asyik dengan BB-nya masing-masing. Mereka hanya sesekali tampak ber –ah-uh-ah-uh untuk kemudian kemabli menekuri layar BB dan sesekali cekikikan.

Tempo hari saat menghadiri resepsi pernikahan sepupu, saat para tamu bergantian menunggu giliran untuk foto kenangan, si mempelai pria terlihat serius memandangi HP-nya, mungkin membaca SMS, yang ternyata sedari tadi ia kantungi dalam saku beskap indah yang dikenakannya pada hari itu. Bayangkan. Bahkan saat menikahpun [ia melangsungkan akad nikah dan resepsi pada hari yang sama], seseorang merasa tetap perlu keep in touch dengan HP-nya, melayani orang-orang yang muncul via SMS, padahal ratusan orang hadir secara fisik pada acara tersebut.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk chatting, namun kadang malas untuk silaturahmi dengan saudara-saudara di dunia nyata [kadang merasa cukup memperhatikan papa mama kita yang sudah tinggal terpisah hanya dengan mengirim SMS, bukan mengunjunginya dengan membawa martabak kesukaannya misalnya]. Anak-anak sudah tidak kenal main petak umpet dan bintang tujuh karena game online jauh lebih menarik, meski itu tidak melatih psikomotor kasar mereka dan tidak membuat mereka cukup punya social life. Suami istri menonton berita di TV berjam-jam, dan hanya sebentar saja ngobrol sebelum tidur. TV memang ‘berhala’ di rumah banyak keluarga. Bukannya ngobrol panjang lebar dengan anak, para orangtua yang kecapean pulang kerumah malah nonton TV sambil ketiduran. Sibuk membahas kericuhan politik negara tapi lupa membahas apa yang terjadi hari ini di sekolah anaknya.

Kenapa tidak kita matikan untuk sementara segala perangkat itu, dan mulai benar-benar berbicara? :)

Bukankah gadget, just mention it technology, diciptakan to simplify life, bukannya untuk membuat kita kehilangan esensi?

Jumat, April 16, 2010

Tukang Koran itu VS Gayus Tambunan

Sudah hampir pukul 8 malam saat aku menunggu Si Mas di parkiran PS seusai belanja bulanan lalu tiba-tiba seorang anak muda mendekat, “Koran, Mbak”. Aku menolak dengan isyarat. Sudah malam begini, beli koran juga beritanya udah nggak fresh lagi, pikirku. ”Jadilah mbak buat makan..”, ia lalu berkata lagi dengan suara lirih. Aku jadi menoleh, memandangnya sejenak. Ia pemuda tanggung berbadan kurus tinggi yang dibungkus dengan selembar kaos kumal, wajahnya tirus dan polos. ”Malam-malam begini koran seribu yah?”, aku yang terbiasa menawar dagangan apapun dengan spontan menawar korannya. ”Dua ribu ya Mbak..”, pintanya memelas. Aku lantas merogoh dua lembar ribuan dan menerima koran dari tangannya. ”Makasih Mbak..”, ucapnya sambil berlalu.

Aku memandangnya di kejauhan sambil berpikir tentang dua hal tak biasa dari penjual koran itu. Pertama, jarang sekali masih ada penjual koran yang masih berkeliaran malam-malam, ditambah hari gerimis pula. Dimana-mana orang membeli koran di pagi hari untuk memperoleh berita ter-update yang terjadi kemarin. Tiap loper koranpun pada sore atau malam hari sudah pulang kandang atau mengembalikan lembar-lembar koran yang tersisa pada agen. Memutuskan tetap berjualan pada saat hari telah gelap memberi kesan bahwa pemuda tanggung itu memang keukeuh pengen ada tambahan uang hari ini.

Hal kedua, kata-katanya: ”Untuk makan..”, itu mengingatkanku bahwa masih banyak orang-orang yang bekerja dengan tujuan benar-benar ”untuk makan”: mengumpulkan recehan demi recehan yang bisa dibelikan nasi bungkus untuk mengganjal perut untuk hari itu. Coba pikir, untuk makankah kita bekerja sekarang? Kita bekerja banting tulang untuk beli apartemen, ganti mobil yang lebih gress, membiayai S3, menyekolahkan anak di sekolah unggulan yang amit-amit mahalnya, karena memang bekerja ’untuk makan’ itu levelnya sudah kita tinggalkan. Jika memang bekerja sekedar menyambung hidup dan bisa makan, kita nggak akan korupsi. Gayus Tambunan nggak akan merasa tidak cukup dengan tunjangan renumerasinya yang 12 juta jika memang ia bekerja untuk makan.

Jika memang kita bekerja untuk makan, toh makan cuma 3 kali sehari. Jika kita bekerja untuk papan, toh dengan sebuah rumah yang layak saja kita bisa tinggal dengan nyaman, tidak perlu yang seharga 2 M dengan jumlah yang fantastis pula: kapan lagi kita bisa meniduri rumah-rumah itu jika satu hari kita hanya singgah dirumah selama 8 jam untuk tidur? Jika kita bekerja untuk sandang, bukankah dalam sehari paling banyak kita memakai baju hanya beberapa lembar saja, bukan satu lemari?

Bukan. Aku bukan sedang propose gaya hidup sederhana. Jika memang secara finansial mampu, kewajiban zakat sodakoh telah purna tertunaikan dalam tiap gram harta kita, silahkan saja mau punya gaya hidup mewah dan nyaman selama itu tidak merugikan orang lain apalagi merugikan negara [walaupun hidup sederhana tetap yang lebih mendekatkan kita pada tawadhu]. Namun masalahnya, banyak dari kita yang kena penyakit pengen kaya tapi nggak mikir kemampuan; PNS golongan III/a tapi mau punya sederet mobil mewah lalu akhirnya jadi markus pajak misalnya. Kasiaaaan deh.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS 14: 7)

Mudah-mudahan keinginan mengaktualisasikan diri (termasuk godaaan untuk punya jetset life style) tidak lantas membuat kita menjadi kufur nikmat apalagi ’memasukkan diri sendiri’ pada kategori orang-orang yang berbuat dzalim.

Minggu, Januari 17, 2010

Dementor: Hindari Selagi Bisa



Pernah ketemu seseorang dan ngobrol sekilas dua kilas dengannya, dan dalam tempo singkat kamu sudah mendengar sesedikitnya dua gosip, satu berita jelek, dan satu komentar pedas tentang hal yang sedang terjadi? Benar-benar obrolan yang mendadak menguras energi seolah2 kita sedang diare lalu mencret-mencret seharian sampe dehidrasi!

Karena kata Om Plutarch pikiran bukanlah api yg harus dinyalakan, melainkan wadah yang harus diisi, maka masing-masing orang punya gayanya masing-masing dalam men-cultivate pikirannya. Ada tipikal orang yang selalu berpikir tentang hal-hal besar, kemungkinan-kemungkinan, dan gagasan-gagasan. Ada tipikal orang yang selalu berpikir tentang apa yang terjadi, peristiwa penting apa yang ada disiarkan di TV, dan membahasnya dengan kawan-kawan sesuai pendirian masing-masing. Ada juga –dan mungkin ini jumlahnya banyak- tipikal orang yang kayanya jago banget untuk bisa melihat hal-hal jelek, peristiwa-peristiwa menyebalkan, dan lalu berkomentar negatif atas apa yang sedang terjadi. Sosok spt ini juara banget bikin org ngedrop sampe ke titik beku, bahkan bisa jadi ilfil, persis Dementor dalam novel Harry Potter yg selalu nyedot kebahagiaan org secara semena2.

“Gilingan ni ujan ga kelar-kelar! Jemuran gw ga kering-kering kalo begini caranya, a big fu**in’ sh*t!”
”Euleh2, panasnyaaaaaa! Anjrit, bakal luntur make up gw..”
Fakta: what’s so special about raining and or being hot? Kecuali elo tinggal di Gurun Pasir di Arab atau Lembah Mati di Antartika, maka hujan dan panas akan bergantian elo rasakan tiap hari. So why bothers? FYI, menjemur ulang jemuran yg belum kering TIDAK DIFATWA HARAM oleh MUI dan make up luntur bisa dikendalikan dengan 1 langkah strategis dan signifikan yang disebut: TOUCH UP. See?! That’s not that cool to become problems [yg artinya: jgn maen ujan2an biar ga kedinginan].

“Ngapain si tu orang parkir boil tepat didepan kantor begini. Baru bisa beli mobil begitu aja show off! Padahal bukan itu esensi kesuksesan yg sebenarnya. Sukses adalah... [selanjutnya adalah elaborasi yg amat apik tentang hakikat kesuksesan yg tak tuntas dijelaskan dalam tempo waktu 6 Jam Pelajaran]”
”Saya bukannya sombong ya. Tapi sejak kecil saya selalu juara umum. Ini menurun pada anak-anak saya yg semuanya pintar-pintar.. Bukannya sombong yah, saya ini mengusai hampir dalam banyak aspek keilmuan... Oyah, saya udah bilang belum kalo saya lulus S2 Summa Cumlaude? Bukannya sombong yah, tapi saya…”
[selanjutnya adalah pembacaan memoir pribadi yg isinya semuanya tentang seabrek kehebatan sang pembicara, dan org2 lain ga ada yg sehebat dia. Pokoke GA ADA! Percayalah!]
Fakta: Biarkan saya memohon pada Allah SWT agar memberinya inspirasi untuk menonton The Biography, Kick Andy, Oprah Show, Mario Teguh Golden Way, bahkan si Bolang atw Cinta Fitri [lhoooo?], biar dia tau ada banyak sekali org hebat diluar sana, yang diantara mereka ada yg punya kebiasaan pake mobil yang diparkir didepan kantor karena kakinya yg rematik ga tahan buat jalan jauh. AMIIIIN. Berdoa selesai.

Orang 1: Eh Dian [Mungkin Sastro]… pakabar?! Bajunya keren banget!”
Orang 2 (Si Dian Mungkin Sastro): ehhhh, iya nih... eeeng.. [tersipu2]
Orang 3: Hmmmmm, kayanya beli di RAMAYANA YAH?! Yang diskonan 50% kali? Kalo sayah sih udah berapa puluh taon lalu ya ga ke ramayana.. sampe lupa letaknya dimana.. kekekekek.. [ketawa garing yg dipikirnya renyah kaya kacang atom Garuda]
Fakta: Penting yah buat lo letak Ramayana dimana? Kayanya lo lebih butuh ditunjukkin dimana letak WC buat nyikat mulut bergincu lo yg sama sekali ga mirip Titi DJ itu!

Setting: Ngeliat kita lagi rajin
“Ngapain sih lu rajin2 bgitu? Mau langsung naek pangkat yah? Ngloncat ke III/d???”
Setting II: Ngeliat kita lagi ngobrol cekakakan kaya drakula
”Ngobrol aja nih kerjanya. Kalo ga ngobrol, facebookan!”
Fakta: Last time I checked, rasanya sayah nggak angkat kamuh jadi satpam pribadi deh! Lagipula saya bukan atlet loncat indah jd ngapain maen ngeloncat-loncat ke III/d, enakan juga ngemil froyo! Iya tau emang ga nyambung!”

Kita : Pakabar pak/bu/om/tante/uwak/jeng/kang/teteh/bibik?!
Dementor : Hoadoooohhhhhh! PUSING SAYAH PUSING!!! Banyak banget masalah dirumah! Belum lagi ngurusin kerjaan ga kelar2.. Mobil masuk bengkel! Mati lampu seharian gimana mau kerja! Damn PLN! Trus tau nggak si Gery Iskak itu mau nyerein istrinya yg lagi hamil 5 bulan? APA SAYA BILANG! Jangan2 mereka tu hamil duluan, trus di Gerry terpaksa nikahin bininya!”
Fakta: hoekss! Harap jauhkan ibu hamil dari jangkauannya! Ya illahi robbi, apa nggak menderita ya nyepam all the time begitu? Isi omongannya jeleeeeekkkk semua! Tiap hal nggak ada yg diliat bagus, tiap org diomongin juga yg jelek2nya, ga heran kalo ekspresi mukanya suram melulu, ga ada hepi2nya! Org ngeliatnya jadi iba kaya ngeliat korban tsunami Aceh dan pengen nyumbang baju bekas!

Jika kebetulan ga ada pilihan lain selain ngobrol dengan orang tipikal ini, bisa dipastikan begini kira-kira transkrip obrolan monumental itu:
”Saya bingung ya dengan jalan pikirin si Ucok itu [nama disamarkan utk kehormatan dia yg tak terlalu terhormat]. Masa iya dia itu… bla bla bla..” [Tema: becoming a bloodymoron judge for other’s choices of life, padahal ga ada background pendidikan hukum]
“Jadi Ibu Titi itu [lagi2 disamarkan] skrg dicalonkan jadi kepala? Walah dalah.. Mo jadi apa nanti kantor itu.. Belum jd kepala aja lagaknya udh kaya Mr.President..” [Tema: jadi tim penguji fit & proper test buat calon kepala2 kantor tanpa ada yg meminta]
Dan setelah 10 hingga 15 menit berlalu, mendadak kita mendapat depresi ringan yg bisa menjurus pada tekanan batin dan penyusutan berat badan jika terus berlanjut.

Jadi, untuk menyikapi para dementor yg menguras energi kita ini, peringatannya jelas: HINDARI SELAGI BISA. BARANG KECIL JAGA SENDIRI. DON’T TRY THIS AT HOME.

Sabtu, Oktober 10, 2009

'Nyampah' Sampai Tua

Saat membaca buku-buku tentang keterampilan interpersonal dan cara berkomunikasi efektif, kita seringkali di warning tentang bukan hanya penting APA yg ingin kita sampaikan pada orang, tapi BAGAIMANA cara kita menyampaikannya. Akan ada perbedaan yg besar pada DAMPAK, jika kita tau cara yg baik buat menyampaikan apapun yg baik atau tidak baik.

Tapi saat ini aku berpikir lain. Bagaimanapun halusnya cara seseorang, jika isinya SAMPAH, ya tetap akan ngefek ga enak di hati.

Nyampah ya nyampah, talking rude is undeniably bad, bagaimanapun manisnya proses nyampah itu.

Aku percaya content has its own power. Jadi PR kita tidak hanya belajar how to talk, tapi berlatih untuk memilih what to talk about. Dan sungguh, ini ga bisa dibuat-buat.

Untuk menjadi orang yg terbiasa bicara baik, kita kudu punya paradigma bahwa bicara baik itu keharusan.
Dan untuk menjadi orang yang terbiasa bicara sampah, ga sulit buat kita. Cukup anggap aja itu hak kita, dan no big deal buat orang. See? Sangat gampang buat jadi orang yang hobi nyampah. Bahkan kita menyaksikan pada tiap komunitas, sering kali ada saja sosok yang hobi nyampah bahkan saat dirinya sudah beranjak tua. Paralelisme antara usia dan kearifan ternyata sering kali tidak berlaku. Ekspektasi bahwa semakin berumur seseorang akan makin tinggi tendensinya untuk bijaksana kerapkali hanya sebuah misasumsi.

Sedih sekali jika menyaksikan bahwa mereka yang kita hormati karena senioritasnya, kerapkali masih merasa ‘masih jaman’ untuk berkata-kata sampah yang ga selayaknya. Masa iya sih, kita rela untuk nyampah sampai tua?

Kamis, April 16, 2009

Facebook: Kontraproduktif?

Guys, banyak memang yang berpendapat bahwa friendster, myspace, facebook, twilight, blogging, chatting, dan aktivitas-aktivitas serupa lainnya adalah wasting time, alias kontraproduktif. Karena hal tersebut pula, banyak perusahaan yang lantas memilih untuk memblokir alamat situs-situs tersebut untuk menghindari para karyawannya menghabiskan banyak waktu kerjanya untuk hal-hal seperti itu.

Nyatanya memenag banyak orang addicted to Facebook. Facebook berhasil memasuki ranking tiga situs yang paling banyak dikunjungi, menggeser senior dunia jejaring social: Friendster. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai media silaturahmi dan mencari teman, Facebook digunakan untuk beriklan serta berkampanye. Obama adalah Presiden pertama yang memanfaatkan Facebook untuk kampanye via internet, dan kini banyak pengekornya.

Namun ada hal-hal yang sebaiknya kita pertimbangkan dalam ber-Facebook:

1. Terbuangnya waktu. Facebooker sulit terlepas dari PC, laptop, HP, dan gadget lain untuk mengakses Facebook. Rata-rata Facebook user mengatakan bahwa akun pertama yang mereka buka saat terhubung dengan internet adalah situs Facebook dan mereka bisa membuka Facebook lebih dari 3 kali sehari! Solusi: komitlah untuk mulai mengakses situs-situs ‘hiburan’ seperti ini hanya pada waktu break, jeda ditengah-tengah pekerjaan, atau menjelang waktu balik. Karena perusahaan/negara membayar atas pekerjaan yang kita lakukan, tuntaskanlah job terlebih dulu untuk membuat gaji kita halal ;)

2. Potensial untuk menjadi masalah bagi kehidupan real. Pertama, masalah bagi yang telah berumahtangga. Disinyalir jumlah perselingkuhan dan perceraian meningkat seiring dengan maraknya Facebook. Kedua, masalah pekerjaan. Tidak hanya karena terbuangnya waktu produktif pada office hours, melainkan kebiasaan pengguna Facebook untuk curhat banyak hal termasuk masalah pekerjaan yang melanggar etika dan rahasia perusahaan. Tampilan Facebook adalah seperti mading yang terus update dan dapat dilihat oleh banyak orang, termasuk rekan kerja dan boss. Contoh kasus menimpa Kimberley Swan -pekerja Ivell Marketing dan Logistics Limited di Clacton Inggris yang merasa bosan dengan pekerjaannya sebagai bagian administrasi dan keluhannya di Facebook diketahui pimpinannya yang berlanjut dengan pemecatan. Konyol ya, dipecat gara-gara Facebook? Solusi: Jangan terlalu mengekspos hal yang ‘risky’ di facebook.

3. Mind your uploaded photos. Banyak banget artis yang diberitakan ke-gap dengan beredarnya foto-foto pribadi melalui facebook, yang terbaru foto Sheza Idris dan adik Acha. Seorang teman rumahtangganya nyaris berantakan karena suaminya melihat foto-fotonya tengah berkarokean dengan teman laki-laki. Ada lagi masalah dengan tidak berkenannya teman-teman yang di-tag dalam foto tanpa sepersetujuannya, terutama untuk foto-foto ‘tidak aman’, pribadi, dan foto ‘jadul’ di masa lalu yang diposting lagi. Ada beberapa teman berjilbab yang keberatan jika foto lamanya yang belum berjilbab dipublish lagi. Solusi: Ga masalah memajang foto hasil narsis diri sendiri to have fun, tapi setidaknya batasi untuk foto-foto yang ‘tidak aman’.

4. Beri informasi yang bersifat umum saja. Privacy is damn private. Yang lebih gaswat sebenarnya adalah kemungkinan hacker untuk mencuri identitas pribadi pengguna Facebook. Istilah kerennya impersonation: pencurian data diri untuk kemudian digunakan untuk berbagai keperluan yang dapat merugikan si pemilik identitas asli. Tindakan yang masuk kategori kejahatan ini biasanya si pelaku berpura-pura sebagai si pemilik identitas untuk mendapatkan informasi rahasia si pemilik identitas asli atau untuk meakukan klaim kepemilikan sesuatu yang sebetulnya bukan haknya. Solusi: be wise in informing no telp/handphone, alamat rumah/kantor bahkan foto. Hal-hal yang terlihat sepele ini bagi bagi orang yang berniat jahat merupakan aset yang berharga.

5. Ingatlah bahwa cara kita berFacebook mencerminkan orang seperti apa kita. Jika tiap 15 menit kita update profil dengan berita-berita nggak penting seperti, “Wah, mau hujan nih..”, “Ngantuk deh..”, atau “Ugh, sebeeeel! Bete beraaat. Gara-garanya…” dan seterusnya, maka orang yang seksama bisa menangkap kesan negatif tentang kita mulai dari nggak ada kerjaan, nggak produktif, tukang ngeluh, negative thinking, sampe annoying. Apa yang kita pikirkan mencerminkan diri kita. Jika kita memikirkan hal-hal remeh-temeh dan nggak penting, bagaimana orang bisa melihat kita penting? Lagipula sungguh deh, membacai status update nggak penting begitu sering terasa annoying.. Solusi: Tahan diri untuk tidak terlalu gampang memberi ‘pengumuman’ nggak penting di ‘mading’ yang dipajang di seluruh dunia itu..

Dengan mengkilas balik sisi-sisi negatif Facebook diatas, pertanyaannya adalah: is Facebook worth it? Jawabannya sangat tergantung pada bagaimana cara kita memanfaatkan Facebook. Walaubagaimanapun banyak hal positif yang ditawarkannya. Bahkan, berseberangan dengan banyak pendapat yang mengatakan tentang kontraproduktifnya Facebook, seorang analis peneliti pasar dari Aberdeen Group, Kevin Martin justru memprediksi bakal ada ratusan perusahaan di seluruh dunia yang lambat laun akan mulai memberdayakan situs jejaring sosial karena teknologi situs jejaring sosial dinilai telah menjadi hal penting dalam dunia pekerjaan karena memungkinkan orang-orang untuk saling berkolaborasi, belajar, dan berbagi info dari berbagai belahan dunia. Ini merujuk pada sebuah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mayoritas karyawan menyukseskan proyek pekerjaan mereka dengan berbagai kolega dari kantor lain yang memiliki jarak berjauhan, juga memangkas biaya pengiriman email dan SMS antar karyawan yang tak perlu.

Saya sendiri berpikir, jika kita maksimalkan pemanfaatan Facebook untuk hal-hal positif, penting, dan relevan dengan pengembangan diri, maka Facebook membawa nilai plus bagi kita. Yang kedua adalah, bisa dikatakan seseorang yang tergabung pada situs jejaring sosial ini menjadi sosok yang accessible, ‘eksis’ dan go public (bahasa anak mudanya: gaul) dan ini penting untuk social life dan network building. Inilah cara mudah untuk menjadi familiar. Entah berada di belahan dunia manapun, tetap keep in touch dengan banyak teman dan rekan melalui Facebook adalah a piece of cake. Dan yang ketiga: adalah tantangan untuk memanfaatkan teknologi ini untuk making progress, apapun bentuknya. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia bisnis and trade, ini media promosi gratis yang efektif. Pun bagi mereka dengan pekerjaan yang membutuhkan intensitas go public yang tinggi seperti penulis, selebritis, anggota legislatif hinga para pejabat. Seperti yang kita tahu, pada musim kampanye lalu, ada makin banyak para caleg yang tampil di Facebook, selain menggunakan website pribadi.

Guys, be wise in dealing with IT, including Facebook.


Senin, April 13, 2009

Bagaimana Cantik Didefenisikan?


Jika pertanyaan “Apa sih cantik menurut kita?”, the frequently given answers adalah: sosok perempuan tinggi langsing, berkulit putih cemerlang, dengan rambut panjang lurus yang tergerai indah, dan wajah mulus tanpa cela bak pualam. Terkadang kata ‘cantik’ diidentikkan pula dengan istilah ‘seksi’, yang berarti harus memiliki dada dan bokong besar dan kencang hingga tampak ‘sempurna’ sebagai seorang perempuan. Mau diaminkan atau disangkal, namun inilah stereotype yang melekat kuat pada society kita tentang ‘value’ seorang perempuan untuk bisa masuk pada kategori cantik. Jika tidak percaya, lihat saja beauty peagant atau kontes-kontes kecantikan yang seringkali ditayangkan secara on air di layar kaca. Dalam industri televisi, merekalah representasi dari sosok wanita cantik, dan sampai lebaran monyet juga kita nggak bakal nemu ada finalis berbadan pendek atau gendut disana. Kenapa? Ya karena itu tidak cantik!

Saat ini populasi penduduk dunia diestimasi sekitar 6,5 miliar orang (analisis Pusat Program Internasional di Biro Sensus AS), dan konon perbandingan perempuan dan laki-lakinya mencapai 10:1. Pertanyaannya adalah, dengan jumlah sebanyak itu lantas apakah untuk disebut cantik mereka harus tampil ‘seragam’? Apakah wanita-wanita Afrika yang berkulit cokelat harus ramai-ramai memutihkan kulit, wanita-wanita Amerika yang pirang dan keriting harus mengecatnya jadi hitam dan melakukan rebonding agar tampak lebih lurus, dan wanita-wanita Asia yang berbadan mungil harus melakukan operasi pembesaran payudara dan bokong? Belum lagi buat mereka yang memiliki hidung kurang mancung, badan kurang tinggi dan kelebihan berat badan, daftar ‘dosa’ mereka sebagai perempuan tampaknya menjadi amat panjang dan ini seolah akan menjadi sebuah legitimasi penilaian bahwa mereka tergolong BUKAN PEREMPUAN CANTIK.

Mungkin kita berpikir, stigmatisasi inilah yang membuat industri kecantikan termasuk produk kosmetika, salon dan pusat kecantikan hingga pusat kebugaran menjadi laku keras dan kian menjadi bisnis yang nggak ada matinya, dan ini berbanding lurus dengan meningkatnya awareness masyarakat terhadap pentingnya penampilan sebagai bagian dari image building. Namun sebenarnya, hukum yang berlaku adalah sebaliknya! Industri kapitalis dunia fashion dan kecantikanlah yang membentuk pencitraan tentang kecantikan sedemikian rupa sebagaimana yang diyakini masyarakat kita sekarang, dan industri media adalah backing yang mempromosikannya. Pendefenisian masyarakat tentang makna kecantikan itu sendiri bukan terbentuk secara serta merta, melainkan hasil dari bombardir media dengan caranya yang sangat cerdas, hingga jarang sekali kita menyadari bahwa kita tengah di brainwashed secara amat halus untuk melihat hal-hal kasat mata dan artifisial sebagai prioritas, dan pada akhirnya berpotensi untuk mencetak kita menjadi bangsa hedon yang amat mementingkan kulit– material – duniawi, dan dangkal memahami substansi – immaterial- ukhrawi.

Imbas mudahnya adalah: jutaan wanita mati-matian mengubah penampilan fisiknya agar bisa ‘menerima’ diri mereka sendiri sekaligus untuk merasa lebih diterima oleh lingkungan. Ini juga yang menjadi variabel penting yang membuat mereka lebih merasa berbahagia dengan hidupnya. Banyak sekali wanita ‘kurang bahagia’ yang lantas menderita bulimia dan anoreksia maupun eating disorder lainnya, atau untung bagi mereka yang kaya raya bisa melakukan facelift atau bedah plastik lainnya sesuai kebutuhan, namun bagi yang punya budget pas-pasan apa boleh buat: minta suntik ‘dokter-dokteran’ yang bisa menyulap penampilan fisik mereka hingga lebih wow meskipun untuk itu banyak yang akhirnya meregang nyawa.

Saya tidak mengatakan bahwa mengupgrade penampilan adalah hal buruk. Justru sebaliknya, ini adalah wujud kepedulian kita terhadap diri kita sendiri, hingga kita mau melakukan upaya terbaik untuk diri kita. Saya juga tidak mengklaim bahwa mereka yang mengubah penampilan fisik adalah mereka yang pasti kurang bersyukur. Justru mungkin itulah cara mereka mensyukuri anugerah fisik yang dikaruniakan: dengan mengoreksinya hingga makin tampak sempurna. Namun setidaknya ada dua hal yang kemudian menjadi isu memprihatinkan.

Pertama adalah bagaimana kita para wanita ini meletakkan urgensi kecantikan secara tidak proporsional, hingga mengabaikan aspek-aspek lain yang melengkapi value kita sebagai manusia. C’moon, ada banyak sekali kualitas kita sebagai manusia selain dari semata-mata menjadi cantik rupawan. Mengapa tidak menyeimbangkannya hingga kita tumbuh berkembang menjadi manusia yang paripurna? Menjadi wanita cantik yang tidak cerdas adalah sebuah kerugian karena bisa jadi ‘korban’ banyak kepentingan, dan menjadi wanita cantik yang tidak berkarakter adalah sebuah godaan menggiurkan yang lantas mudah untuk menjadi membosankan, seperti halnya menjadi wanita cantik tanpa manner akan tampak mengesalkan. Bagaimana dengan menjadi wanita cantik yang minus kesadaran beragama? Saya cuma bisa bilang: berbahaya.

Jika kita mau menginvestasikan begitu banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mengupgrade aspek kecantikan lahiriah, mengapa tidak melakukan hal yang sama untuk mengupgrade kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional (termasuk didalamnya kecerdasan interpersonal), kecerdasan spiritual, dan banyak kecakapan hidup (life skills) yang menunjang value kita sebagai manusia? Saya sih percaya, jika kita sibuk menguprade seluruh aspek ini secara kontinyu, kita ga akan sempat untuk mengutuki kekurangan fisik hingga membuat kita rela untuk jadi seorang anoreksia! Ada terlalu banyak agenda yang harus kita selesaikan, terlalu banyak keterampilan yang ingin kita pelajari, dan terlalu banyak target yang ingin kita capai; mengapa menghabiskan banyak waktu dengan sebagian kecil dari value kita itu? Menjadi cantik saja tidak cukup, kita juga perlu untuk punya attitude, strong character and high determination, menjadi kompeten pada bidang kita sekaligus broad-minded alias berwawasan luas dan berpikiran terbuka hingga siap untuk membuat kemajuan apapun. Untuk mencapai kualifikasi ini saja, ada banyak hal yang harus kita pikirkan dan banyak action yang harus kita lakukan. Be balanced! Bukankah menyenangkan untuk menjadi perempuan yang tidak hanya hobi ke salon dan spa tapi juga mengalokasikan waktu rutin ke toko buku dan seminar-seminar pengembangan diri? Bukankah menyenangkan untuk menjadi perempuan yang tidak hanya lancar bicara tentang gosip infotainment dan kosmetika yang bebas mercury dan hidroquinon tapi juga nyambung berbicara tentang pemilu, isu-isu sosial dan lingkungan hidup?

Keprihatinan yang kedua adalah, bagaimana isu kecantikan ini telah mengambil banyak sekali tempat di hati kita, hingga kita menjadikannya sebuah variabel penting bagi kebahagiaan hidup kita secara keeseluruhan. Bukankah sering kita tergerogoti virus minder terkait dengan kekurangan fisik? Pun kita seringkali tergoda untuk merasa less happy karena kebetulan wajah sedang jerawatan, berat badan naik satu kilo (HELOOOWW, I MEAN: SATU KILO GITU LHO), atau kulit kering karena kelamaan di ruang ber-AC sementara lupa pake body lotion. Hal-hal seperti ini akan membuat kita terserang bad mood dan terkadang yang lebih nggak make sense lagi adalah ini mempengaruhi ‘stabilitas’ hidup kita sepanjang hari. Bukankah ada istilah ‘Bad Hair Day’ –yang merujuk pada keadaan hari yang buruk karena keadaan rambut yang nggak oke –mungkin karena lupa keramas, nggak pake conditioner, atau karena pas kebetulan beraktivitasan di tengah terik matahari? Kita mendadak merasa punya alasan untuk merasa tidak hepi menjalankan hari dan rutinitas karena ‘kecacatan’ pada penampilan, padahal segala sesuatu toh sebenarnya kembali pada persepsi.

It’s undoubtly okay to be beautiful –malah harus menurutku. But, there’s nothing wrong for being less beautiful, even look horrible for some time. Why not? Kenapa kita tidak boleh sesekali tampak kacau, messy, bahkan mengerikan, namun tetap merasa hepi menjadi diri kita sendiri? Kenapa harus merasa inferior saat berhadapan dengan para finalis kontes ratu kecantikan yang membuat kita tampak seperti liliput buruk rupa? Bukankah: The way we value ourselves set standards for others? Jika kita melihat diri kita penuh cacat dan kekurangan, bagaimana mungkin orang bisa melihat aura penuh pesona yang memancar dari dalam diri kita?

Menurutku, orang yang yakin pada dirinya sendiri tampak sangat memukau, baik itu laki-laki maupun perempuan. Sementara orang yang tampak selalu punya banyak masalah, mempersoalkan hal remeh temeh, selalu mempunyai banyak stok isu untuk dikeluhkan, entah itu rupawan bak Penelope Cruz dan Brad Pitt sekalipun, tetap saja pada akhirnya akan tampak seperti sosok Dementor pada novel Harry Potter yang bisa ‘menghisap darah’ orang alias membuat bete sepanjangan.

So, I really ponder that, beautiful is all about being proportional viewing all and being happy unconditionally. Jikapun itu diikuti dengan kesempurnaan fisik, anggaplah itu bonus kita sebagai perempuan. Jikapun tidak, tetaplah proud of being yourself! Alasannya sederhana: di dunia ini, yang seperti kita hanya satu. Tidak ada seorangpun yang serupa dengan kita. Kenapa lantas merepotkan diri dengan ingin tampak seperti orang lain? Cantiklah sebagai diri kita, dan be happy celebrating the priceless-you!

Senin, April 06, 2009

Impulsive Buying: Dosa Besar Banyak Perempuan


Jalanlah ke mol pada akhir pekan, dan bisa dipastikan akan sulit sekali mencari areal parkir yang lowong saking padatnya pengunjung. Suatu kali saya mengungkapkan keheranan pada suami, “Ngapain aja sih Mas kerjaan orang-orang ini pada ngumpul di mol? Apa mereka nggak ada kerjaan?”, yang langsung ditimpali pria teman tidur saya itu dengan pertanyaan juga, “Lho, kita berdua ini, ngapain pada ke mol?”. “Kita kan ada perlu!”, jawab saya segera. “Lha iya, mereka juga ada perlu..”, selanya membuat saya manyun.

Tapi memang setelah saya ingat-ingat, saya adalah tipikal orang yang seringkali merasa ‘perlu’ ke mol, plaza, atau shopping centre manapun, dan jika sudah sampai disana saya selalu merasa ‘perlu’ untuk berbelanja, dan itu berarti merasa ‘perlu’ untuk memindahkan isi dompet ke kasir toko tersebut! Tampaknya mudah sekali bagi saya untuk menemukan alasan mengapa saya perlu barang-barang yang kemudian saya beli. “Oh iya, saya udah lama pengen beli kemeja putih karena yang lama udah pada nggak layak pakai”, “Sendalku udah buluk banget! Udah waktunya dipensiunkan..”, “Ih gelangnya antik deh! Matching kalo dipaduin dengan PDH cokelat hari kamis..”, dan seterusnya. Pendeknya saya jago berat dalam berargumentasi dengan diri sendiri dan suami untuk memenangkan perdebatan tentang: apakah barang ini layak dibeli?

Alhasil suami seringkali protes dengan kebiasaan impulsive buying saya itu. “Skala prioritas dong, Ay… “, nasihatnya yang biasanya saya aminkan untuk kemudian terlupakan lagi saat sudah berada di mol. Lantas beberapa pekan lalu, saat membereskan lemari pakaian saya seperti disentakkan oleh sebuah fakta yang mengagetkan. Ada banyak sekali baju yang baru saya beli yang bahkan belum pernah saya pakai sama sekali! Ada 2 buah bolero bahan rajut yang bahkan sampai sekarang saya nggak tau akan dipakai dalam momen apa yang kebetulan aja dibeli karena ada sale, 1 dress yang ogah banget dipakai karena amat sangat pasaran alias tampak dipakai semua orang yang lewat di jalan, 1 blus satin dengan model unik yang ternyata makenya nggak pede karena jadi kelihatan gendut, 1 dress bahan spandeks yang ‘amit-amit’ untuk dipakai karena warnanya yang bak pelangi, 1 blus rajut dan jins pensil yang ternyata amat full pressed body sementara saya nggak punya cukup kenekatan untuk mengenakannya (takut dirajam suami ;)) plus 1 buah tas cangklong berwarna putih yang kesemuanya sama sekali belum tersentuh! Ini belum termasuk dengan beberapa blus, kemeja dan tunik yang amat sangat jarang dipakai dengan berbagai ketidaksregan dan ketidakberesan yang saya temui pada barang-barang itu, hingga memperkuat alasan saya untuk hanya menumpuknya di lemari.

Saya lantas mengingat-ingat, kenapa ya shopping saya kok tidak efektif begitu? Dalam artian: mengapa saya banyak membeli barang-barang yang lantas saya sesali pembeliannya karena alasan A hingga Z?

Let’s see. Saya lantas menemukan bahwa, ada banyak sekali barang-barang yang saya belanjakan itu dengan dominasi ‘hawa nafsu’ alias tanpa pertimbangan yang matang. Just name it impulsive buying; berbelanja secara impulsif alias dengan spontanitas dan jarang disertai pemikiran mendalam -banyak yang menyebutnya lapar mata. Inilah dosa besar banyak perempuan-perempuan seperti saya. Sangat bertolak belakang dengan suami saya yang sekedar untuk membeli celana kaos oblong saja bisa berpikir sampai dua minggu! Sering sekali saya menggerutu karena bolak-balik dia melihat-lihat di toko tapi ujung-ujungnya berkata, “Ah, nggak usah dulu deh, kayaknya belum perlu..”. Hayyyah…

Tapi setidaknya saat ini saya sudah berpikir untuk insyaf ;). Amat dzalim jika saya wasting money untuk hal-hal yang tidak bermanfaat sementara banyak sekali orang diluar sana bahkan bolak-balik berpikir sekedar untuk membeli nasi karena uangnya tidak cukup. Boro-boro berpikir untuk membeli baju demi fashion! Oalah…

Nah, buat para perempuan dengan kecenderungan impulsive buying seperti saya, saya ingin sharing beberapa tips berdasarkan pengalaman selama menjadi impulsive buyer:

1. Jangan samakan manekin dengan Anda!

Kita sering sekali tertipu melihat betapa kerennya manekin dengan fashionable outfit yang kita pikir pasti keren sekali jika kita kenakan. Padahal faktanya manekin akan selalu tampak keren mengenakan apapun bahkan sarung sekalipun! Sementara kita-kita dengan tinggi badan ala kadarnya dan berat badan cukup memprihatinkan, kiranya lebih banyak mawas diri dan menahan ‘emosi’..

2. Make a note.

It’s cliché and will not work! Begitu mungkin teriakan banyak orang jika mendengar harus membuat ‘to-buy-list’, karena ujung-ujungnya toh akan banyak juga barang yang diluar daftar yang terbeli. Jadi percuma kan? Nah, disinilah perlunya seseorang berwibawa yang berkomitmen dengan kita untuk saling mengingatkan: bisa dalam bentuk suami, kekasih, atau kekasihnya teman (hehe, becanda). Meski kita bisa berdebat dan ‘minta dispensasi’, setidaknya nggak akan banyak-banyak banget selisihnya. Beda halnya jika berbelanja sendirian, atau malah berbelanja dengan teman yang hobi ngomporin, wahh dijamin malah banyak belanjaan diluar daftar yang ikutan terbeli. Jadi berapa uang yang kita habiskan untuk berbelanja akan sangat tergantung pada: siapa yang kita ajak untuk menemani kita belanja?

3. Sediakan kaki yang tidak gampang pegal.

Survey adalah prasyarat wajib sebelum memutuskan untuk bertransaksi. Untuk mendapatkan barang terbaik dengan harga paling kompetitif, kuncinya cuma sediakan waktu dan kaki yang nggak gampang pegal untuk keliling-keliling. So, wearing high heels is a big no-no! Cukuplah kaki kita terlihat seksi dengan sepatu/sendal berhak tinggi saat ngantor dan kondangan, tapi untuk shopping ‘kelas berat’, berbesar hatilah dengan mengenakan sandal teplek meski itu membuat orang-orang dengan tinggi seadanya seperti saya kelihatan jadi makin alakadarnya.

4. Asah bargaining skill.

Ini mutlak dipraktekkan tidak hanya untuk pasar tradisional atau pusat grosir tapi juga jika berbelanja di factory outlet, distro, dan butik. Cuma memang ‘gaya’ menawar kita yang membabi buta di pasar tradional –hingga bisa menawar hingga 70%- tidak bisa diterapkan di mol apalagi butik high class. Agar dipandang ‘berkelas’ saat belanja di tempat-tempat yang lebih eksklusif kita perlu menawar dengan gaya lebih elegan, “Oh, segitu? Mahal juga ya? Diskonnya berapa?”, dengan memasang wajah ‘bangsawan’ yang tak begitu butuh barang itu. Jika kita yakin harganya sekian, tembak saja, “Biasanya saya beli segini…”, “Harga biasa aja Mbak, saya kan udah langganan”, dan seterusnya. Kalau tawar-menawarnya alot, akhiri dengan harga yang kita rasa cukup pantas sebelum kita cabut . Kalau si penjual merasa OK dia akan memanggil agar balik lagi. Kalau nggak, artinya harga terakhir yang dia berikan itu sudah standar terendah. Tapi kalau saya sih, jika pramuniaganya sejak awal udah ngasih harga penawaran yang nggak make sense alias terlalu tinggi, saya suka ilfeel sendiri untuk sekedar menawar dan memilih untuk ngabur. Menurut saya sih, setinggi apapun harga penawaran, harus tetap reasonable.

5. Think about mixing and matching

Kita belanja baju untuk dipakai kan? Karenanya harus telah tersedia padanannya yang sesuai untuk di mix and match dengannya, hingga kita nggak kebingungan nanti mau dipakai dengan apa dan pada momen apa. Selucu apapun modelnya, kalau akhirnya tidak wearable, buat apa? Bayangkanlah, pada momen apa aja bisa dipakai, dan dipadukan dengan apa? Mix and match adalah skill ‘fardhu ain’ buat seorang fashionista. Meski saya nggak termasuk golongan itu, tapi saya percaya ini berlaku universal. Untuk kelihatan shining, kita nggak harus tampil lebay dengan mengeluarkan seluruh fashion item branded yang kita punya dari ujung kepala sampai kaki. Cobalah mix barang branded dengan dengan barang hunting dari lapak kaki lima misalnya.

6. Jangan pelihara gengsi.

Pilihan kemana akan berbelanja akan sangat ditentukan tentang apa yang akan dibelanjakan. Jika barang dengan kualitas yang sama bisa diperoleh di tempat-tempat alternatif namun dengan harga yang miring, kenapa mesti melangkahkan kaki ke butik kelas atas atau mol dengan fixed price demi prestise? Jika berhasil memperoleh barang yang sama dengan harga yang jauh lebih murah, harusnya kita bangga dong. Kecuali, jika kita memang hunting barang-barang kelas satu yang kebetulan memang tidak bisa disamakan kualitasnya dengan yang dijual di pusat grosir misalnya.

7. Jangan shopping untuk mengisi waktu luang.

Shopping lah karena memang ada tujuan untuk membeli apa, bukan hanya karena having nothing to do lalu melarikan diri ke mol utk shopping window. Yang ada bukan hanya jendela kita beli, tapi juga pintu-pintunya hingga atap gentengnya! Banyak dari kita yang mengusir rasa badmood dengan pergi shopping. Memang secara psikologi, belanja memicu aliran deras dopamin ke otak. Aliran itulah yang dirasakan ketika Anda jatuh cinta. Berbelanja juga bisa mengaktifkan endorfin. Dengan kata lain, tindakan berbelanja biasanya membuat orang merasa lebih baik. Jika kita memang sedang butuh refreshing, lebih baik ajak teman untuk hang out, atau melarikan diri ke toko buku. Meskipun sekeluarnya dari sini kita akan menenteng buku sebagai belanjaan, no problem then, karena buying books is not about spending money, but INVESTING one! Saat ini saya sedang menerapkan strategi: selesaikan buku yang baru dibeli, sebelum membeli buku lagi –untuk memotivasi saya tidak menumpuk buku yang tidak habis terbaca. Meski strategi ini lebih sering gagalnya, karena waktu yang tersedia sering terasa tidak mencukupi sementara nafsu membeli buku selalu menuntut untuk dipuaskan. Apa boleh buat.

8. Sebelum ‘kalap’ melihat sale, survey harga normalnya!

Kalau tidak tahu harga normalnya, mungkin kita merasa telah untung membeli barang dengan diskon 20% atau 50% misalnya. Padahal, sering sekali saya bandingkan barang-barang sale itu dengan barang yang sama di tempat lain yang lebih murah, jatuhnya masih lebih mahal barang yang telah didiskon itu.

9. Brand really Matters!

Bukan berarti kita kudu ngejar barang branded, justru sebaliknya, untuk barang-barang yang kita nggak butuh brand, carilah brand yang tidak terlalu populer atau lebih baik lagi brand lokal yang tentunya punya selisih harga lumayan banyak dengan barang yang sama dengan merek yang telah established. Untuk ATK misalnya, selama ada brand lokal yang kita yakin kualitasnya, kenapa mesti pilih brand terkenal yang jauh lebih mahal karena mahalnya tax import?

10. Sekali-kali nyobain ke Pasar Kaget, bisa nemuin barang lucu dengan harga murah meriah.

Memang belanja di Pasar-Pasar Kaget kudu lebih teliti karena barang bagus dan jeleknya nyampur. Tapi kalo jeli, bisa banget nemu barang-barang yang ‘kita banget’ tapi versi murahnya yang mungkin orang nggak bakal kepikiran semurah itu.

11. Jangan terlalu rajin ngegesek kartu kredit atau kartu debit.

For a shopaholic, cash is better! Banyak kasus dikejer-kejer debt collector karena terlilit utang yang tau-tau udah numpuk aja.. Ketimbang hidup nggak tenang, mendingan nggak usah banyak pake kartu kredit deh..

12. Biar gaji nggak sekedar numpang lewat: tabung dulu, baru dipake, bukan sebaliknya! Nah ini kata-kata Safir Senduk Perencana Keuangan yang terkenal itu, namun masih sering gagal saya praktekkan ;(. Idealnya memang, gaji langsung masuk ke rekening tabungan yang tanpa kartu ATM, lalu sisanya masukkkan tabungan operasional dengan kartu ATM hingga bisa ditarik sewaktu-waktu. Tapi idealitas inipun seringkali tak berlaku konsisten.. Berilah saya hidayah Ya Tuhan, agar bisa menuruti ide Om Safir Senduk itu..

13. Hati-hati belanja melalui shopping online.

Sekarang para sophaholic makin dimanja saja dengan makin maraknya situs belanja secara online. Nggak perlu berdesak-desakan ke toko grosir tapi bisa beli barang dengan harga grosir (kalo dapet shopping online yang murah), tinggal liat-liat catalog, pilih dan order via e-mail atau SMS, lalu transfer uangnya plus ongkos kirim. Dalam hitungan hari belanjaan kita telah nyampe di depan mata! Di kantor saya sekarang malah lagi ngetren banget belanja via internet begini. Tapi berdasarkan pengalaman, kita kudu ekstra teliti saat ngorder. Pertama: Foto kerapkali tidak merepresentasikan barang secara akurat, mulai dari tekstur bahan, gradasi warna, hingga ukuran. Kedua: Form pembelian harus diisi dengan detil karena kerapkali terjadi error pengiriman karena kekurangtelitian konsumer/miskomunikasi. Saya udah beberapakali dapet kasus begini dan ujung-ujungnya malah barangnya nggak kepake.

Anyway, semuanya akan berpulang pada konsistensi kita untuk being a smart shopper. Sebelum terlilit utang kartu kredit atau malah ‘jatuh miskin’ karena kebiasan impulsive buying, lebih baik kita ‘insyaf’ dari sekarang dan berbelanja secara proporsional alias sesuai kemampuan dan kebutuhan. Yahhh, dalam hal ini sih I’m still a beginner lahhh…